E-Commerce Berguguran Karena Tekanan Ekonomi Makro

mepnews.id – Sejumlah platform e-commerce berguguran. TerakhirJD.ID perusahaan joint venture asal Cina, mengumumkan penutupan permanen per 31 Maret 2023. Penutupan Ini menambah daftar bisnis serupa yang memutuskan menutup layanan bisnisnya di Indonesia.

Sebelumnya, Rakuten dari Jepang meninggalkan Indonesia pada 1 Maret 2016 silam. Blanja.com, joint venture Telkom dan eBay, ditutup per 1 September 2020. Qlapa, platform jualan online khusus kerajinan tangan Indonesia, menghentikan layanannya pada 2019 setelah 4 tahun beroperasi. Startup e-commerce fesyen Sorabel tutup 30 Juli 2020 setelah dilikuidasi. Bananas hanya beroperasi sekitar 10 bulan sejak Januari 2022. Elevenia, perusahaan patungan antara PT XL Axiata Tbk dan SK Planet dari Korea Selatan, tutup 1 Desember 2022.

Mochammad Thanthowy Syamsuddin

Mochammad Thanthowy Syamsuddin SE MAB, dosen manajemen strategis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, berpendapat tutupnya bisnis e-commerce terkait dengan fase konsolidasi yang dialami perusahaan.

“Fenomena bisnis e-commerce platform saat ini dalam fase konsolidasi agar mampu menciptakan keuntungan bagi para investornya. Singkatnya, bisnis e-commerce platform mengarah ke fase profitabilitas,” ujarnya.

Pada fase konsolidasi ini, perusahaan e-commerce merespons banyak aspek eksternal. Antara lain efek penurunan daya beli akibat pandemi COVID-19 dan aspek makro ekonomi lain. Respons mereka dengan dua hal; cost cutting dan optimasi potensi revenue stream. “Ini bisa menjelaskan layoff yang cukup signifikan di sejumlah bisnis e-commerce platform,” tuturnya.

Di sisi lain, perusahaan e-commerce juga meningkatkan biaya admin, commission fee, bahkan mewajibkan memakai layanan logistik internal tanpa third party. Kondisi ini membawa sejumlah konsekuensi di mana perusahaan yang gagal membentuk peta jalan menuju profitabilitas dan kehabisan modal harus out of business.

Bisnis e-commerce saat ini mendapat kompetitor baru dari platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Kedua platform ini sangat dekat dengan kehidupan generasi milenial dan gen Z. “Transaksi jual-beli atau keputusan pembelian dua generasi ini akan didominasi dari dua platform medsos ini,” prediksinya.

Oleh karena itu, para pelaku bisnis e-commerce harus mampu mengoptimalkan fenomena ini dan tetap mengintegrasikan ekosistem toko atau lapak mereka. Apalagi, konsumen e-commerce Indonesia memiliki sensitivitas promo yang tinggi.

“Ada gratis ongkir, mereka pindah. Ada bonus loyalitas tertentu, pindah. Penawaran-penawaran seperti itu semakin jarang kita jumpai dari bisnis e-commerce platform karena fase konsolidasi,” kata Thanthowy.

Lalu, ia merekomendasikan para seller atau penjual yang memiliki lapak di e-commerce membangun kredibilitas yang baik di sejumlah platform e-commerce dan media sosial. Hal ini mengantisipasi kebijakan platform e-commerce yang menghapus fleksbilitas pemilihan logistik dan meningkatkan biaya admin. Selain itu, harus bisa menjangkau lebih banyak potensi pembeli dan pelanggan.

Dalam jangka menengah dan panjang, ia merekomendasikan para seller di platform e-commerce memiliki lapak sendiri dengan membangun website berisi seluruh tawaran produk, termasuk fasilitas pembayaran.

“Hal ini harus dilakukan para pelaku bisnis dan UMKM terutama bagi yang memiliki produk sendiri, bukan hanya trading, sehingga semua aktivitas saluran pemasaran online maupun offline diarahkan ke website sendiri,” terangnya. (*)

Facebook Comments

Comments are closed.