Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Duh, bagaimana nih? Otakku lelah. Sangat cemas. Tidak bisa berfikir. Rasanya semua kacau dan menyesakkan. Mau apa-apa jadi takut. Aku tak tahu harus melakukan apa….!” kira-kira semacam itu lah pikiran yang ada saat otak dalam ‘mode krisis.’
Seperti ‘crisis mode’ dalam perangkat lunak komputer, otak kita bisa ‘hang’. Ketika rasa sakit, depresi, kecemasan, trauma emosional, stres hingga ketakutan sudah mencengkeram otak sehingga membentuk keadaan agitasi konstan, maka akibatnya bisa sangat negatif.
Gejala-gejala ini, yang terjadi secara terpisah atau bersama, bisa mematikan respons menenangkan diri dari otak, bisa menghapus kemampuan untuk mendeteksi konflik, menyelesaikan masalah, dan merespons dengan tepat. Orang bahkan tidak bisa berpikir logis sama sekali.
Pembaca yang budiman, boleh dikata hampir setiap kita pernah mengalami kondisi semacam ini. Lebih-lebih di zaman digital yang bisa memberi tekanan pada kita bahkan di saat dan tempat yang sangat pribadi.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Tenang, tenang. Ada cara yang terbukti secara ilmiah bisa meredakan kondisi ‘mode krisis’ di otak kita. Metode ini diilhami dari alam yakni aktivitas beberapa hewan.
Para ilmuwan telah lama menyadari bahwa mamalia air seperti paus, lumba-lumba, dan anjing laut, biasa melakukan refleks homeostatis dasar. Refleks ini membuat mereka berfungsi optimal saat bertahan hidup dalam waktu lama di bawah air. Belakangan ini, para ilmuwan baru menyadari bahwa air dingin memiliki efek yang sama pada manusia. Air memicu penurunan detak jantung sehingga mengurangi tekanan di otak. Maka, tubuh dan fikiran jadi lebih tenang. Para ilmuwan menyebut ini sebagai ‘mammalian diving response’ atau ‘diver’s reflex’.
Nah, sekarang saya coba jelaskan saat Anda mengalami mode krisis. Dalam kondisi sangat tidak tenang, hampir pasti kondisi itu disertai jantung berdebar, keringat berlebih, sesak napas, nyeri dada, dan semacamnya. Gejala-gejala ini biasanya akibat dari sistem saraf refleks untuk membantu kita bertahan hidup. Masalahnya, kondisi yang biasanya normal ini terpicu secara berlebihan sehingga sistem syaraf refleks ini terjebak dalam mode waspada berlebihan sehingga Anda jadi sangat tegang.
Penelitian dan studi lebih lanjut tentang diver’s reflex menunjukkan adanya sinyal yang dikirim saraf trigeminal di wajah. Saat air dingin mengenai wajah, maka pesan dikirim ke saraf vagus. Saraf vagus ini mengontrol sistem saraf parasimpatis, menghubungkan otak ke seluruh tubuh dan mengatur detak jantung dan pernapasan. Nah, dengan mengaktifkan diver’s reflex, Anda dapat menata ulang sistem saraf yang sebelumnya terangsang secara berlebihan.
Saat mengaktifkan diver’s reflex, detak jantung Anda menurun secara signifikan sehingga terjadi peningkatan resistensi pembuluh darah perifer yang menyebabkan redistribusi aliran darah. Otak juga jadi lebih tenang sehingga bisa diprogram untuk menemukan dan menyelesaikan masalah.
Wow, dahsyat! Tapi, di mana tempat menyelam saat kepanikan datang menyerang? Haruskah ke laut dulu untuk menyelam seperti lumba-lumba?
Ada cara yang lebih sederhana, lebih mudah diakses, dan cepat, untuk merangsang tubuh agar mengaktifkan diver’s reflex.
Pertama, siapkan mangkuk atau ember atau bahkan wastafel. Isi dengan air sejuk, jika perlu ditambahi es batu. Lalu, sambil menahan nafas, celupkan wajah Anda ke dalam air selama sekitar 30 detik. Keluarkan kepala Anda dari air. Ulangi proses mencelupkan lagi.
Alternatif lainnya meliputi: mengusapkan kantong ziplock isi es ke wajah, memaparkan handuk sejuk ke wajah, memercikkan air dingin ke wajah, menggosok pergelangan tangan dengan air sejuk, mandi air sejuk, dan berenang.
Bagi kaum muslim, ini biasa dilakukan. Berwudlu dengan air sejuk yang membasuh tangan, wajah, kepala, hingga kaki, lalu dilanjutkan dengan sholat. Di Bali, orang juga melakukan upacara melukat di sumber-sumber air suci untuk membersihkan diri dan fikiran buruk.
Setelah fikiran lebih tenang, kita bisa menghadapi masalah lebih tenang dan mengupayakan penyelesaian dengan lebih baik.


