Ziarah Kubur di Sarean Gedhe Semanten, Pacitan

Oleh: Rurin Astadinata

mepnews.id – Kata ‘sarean’ memiliki arti ‘makam’ atau ‘kuburan’, yaitu tempat persemayaman terakhir jasad manusia. Kata ‘gedhe’ memiliki arti ‘besar’ atau ‘luas’. Jadi, Sarean Gedhe dapat diartikan sebagai makam atau kuburan yang sangat besar atau luas.

Sarean Gedhe ada di Desa Semanten, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Lokasinya sekitar 300 meter dari traffic light menuju arah Dusun Duwetan di Desa Semanten.

Sarean tersebut bisa dikatakan istimewa karena banyak dikunjungi peziarah dari Pacitan dan dari berbagai daerah lain. Mereka berziarah dengan berbagai cara. Ada yang datang dengan rombongan bus, mobil pribadi, dan bersepeda motor.

Salah satu yang unik yaitu berkunjung ke Sarean Gedhe dengan cara jalan kaki. Cara ini dilakukan para santri. Mereka mengikuti pembelajaran agama Islam di pesantren dan biasanya menetap hingga pendidikan selesai.

Santri yang ziarah ke Sarean Gedhe ini dari Pondok Pesantren Termas. Pondok ini berada di Desa Tremas, Kecamatan Pacitan. Pondok ini salah satu pesantren tertua di Nusantara. Pondok Termas didirikan KH Abdul Manan putra R. Ngabehi Dipomenggolo demang di Semanten pinggiran kota Pacitan.

Awalnya KH Abdul Manan mendirikan pondok di Desa Semanten. Tapi, atas dasar pertimbangan kekeluargaan, jauh dari keramaian atau pusat pemerintahan, dan lebih kondusif bagi santri dalam belajar, maka akhirnya Beliau mutasi ke daerah Tremas. Beliau memimpin Pondok Termas dari periode 1830–1862. Dari nama Desa Tremas ini kemudian pondok jadi masyhur dengan sebutan Pondok Tremas.

KH Abdul Manan wafat pada Jumat (minggu pertama) bulan Syawal 1282 H dan dimakamkan di Sarean Gedhe Semanten di desa tempat Beliau dilahirkan dan dibesarkan. Jadi, secara historis Desa Semanten dan Desa Termas mempunyai hubungan erat dan istimewa karena KH Abdul Manan pernah tinggal dan mengabdikan diri di kedua Desa tersebut.

Maka dari itu, banyak santri dari Pondok Termas melakukan ziarah di Sarean Gedhe untuk mengunjungi makam pendiri Pondok Termas. Para santri melakukan perjalanan ziarah pada Kamis atau Jumat karena libur madrasah. Saat santri berziarah bertepatan dengan waktu masuknya salat Jumat, para santri melakukan ibadah di Masjid Baitul Mila di barat jalan raya Pacitan–Ponorogo tidak jauh dari perempatan traffic light.

Jarak pondok Pesantren Termas dengan Sarean Gedhe sekitar 10 Km. Santri yang melakukan ziarah biasanya mengenakan baju muslim, atau memakai baju koko dan bersarung. Ada yang memakai peci, ada yang tidak. Ada yang berjalan menggunakan alas kaki (sandalan), ada yang berjalan kaki tanpa menggunakan alas (nyeker), ada pula yang naik angkutan umum atau memanfaatkan kendaraan yang melewati jalur searah.

Para santri berziarah ke pendiri Pondok.

Ziarah yang dilakukan dengan jalan kaki ini sangat menarik. Jika dilakukan dari Pondok Pesantren Termas menuju Sarean Gedhe dan kembali ke Pondok Termas, maka jarak yang ditempuh kurang lebih 20 Km.

Tradisi jalan kaki untuk nyekar ini tidak diketahui sejak kapan dilakukan. Namun, diperkirakan sudah dilakukan sejak 100 tahun lalu. Seiring berjalannya perkembangan zaman, tradisi ziarah dengan jalan kaki ini masih berlangsung. Hal ini menunjukkan antusiasnya para santri dalam mengenal pendiri pondok pesantrennya. Jarak yang ditempuh berkilo–kilo dalam cuaca panas maupun hujan menunjukkan keuletan dan keikhlasan para santri dalam mengambil pembelajaran saat menjalani kehidupan di Pondok Pesantren.

Di Sarean Gedhe, makam KH Abdul Manan sangat sederhana. Tidak dibangun mewah. Pusara makam masih berupa tanah yang diberi batu nisan. Di area situ terdapat juga makam keluarga dan keturunan KH Abdul Manan. Sampai sekarang, keturunan Beliau yang menetap di Desa Semanten juga masih ada.

 

Facebook Comments

Comments are closed.