Oleh: Teguh W. Utomo
mepnews.id – Homeschooling di Indonesia diatur berdasarkan Permendikbud 129 tahun 2014 tentang Sekolah Rumah. Ini adalah jenis pendidikan di mana anak-anak belajar di luar lingkungan sekolah namun di bawah pengawasan orang tua. Keluarga menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara mengajarkan materi sambil mengikuti peraturan pemerintah. Kadang, guru bisa didatangkan untuk membantu.
Saat ini, homeschooling sudah dianggap sebagai alternatif pendidikan yang diterima secara luas. Bahkan, sejumlah selebriti memanfaatkan homeschooling agar bisa mendapatkan keluwesan waktu antara bekerja dan bersekolah. Mereka antara lain; Jefri Nichol, Aurel Hermansyah, Nikita Willy, Mikha Tambayong, Dul Jaelani, Irish Bella, dan lain-lain.
Beberapa keluarga memilih homeschooling karena merasa sistem persekolahan formal gagal menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak. Mereka menilai, homeschooling menjadi alternatif untuk mampu menghasilkan pendidikan berkualitas sesuai kriteria mereka.
Salah satu dasar pertimbangannya adalah sekolah formal menekankan pada urusan akademik. Sementara, sejumlah keluarga meyakini konsespi multiple intelligence dan pendidikan itu tidak tidak sekadar akademis. Menurut Howard Gardner, ada kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan ruang visual, kecerdasan kinestetik-fisik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan lingkungan, dan kecerdasan eksistensial.
Pertimbangan tentang homeschooling juga didasarkan pada produknya. Banyak tokoh bisa sukses dalam hidup tanpa pendidikan sekolah formal. Thomas Edison inventor/pengusaha Amerika Serikat, KH Agus Salim politisi putih Indonesia, dan belakangan para selebriti di atas.
Selain itu, homeschooling sekarang bukan hanya karena ketiadaan uang sehingga tidak bisa bayar sekolah. Justru orang-orang berduit sengaja memilih homeschooling karena tersedianya berbagai fasilitas. Ada banyak sarana pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), sarana umum (taman, stasiun, jalan raya), sarana sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), sarana usaha (mall, pameran, rumah makan, pabrik, lapangan, perkebunan), sampai fasilitas dan teknologi informasi (internet dan audiovisual).
Sangat menjanjikan, bukan? Dengan homeschooling, masing-masing potensi kecerdasan dan ketrampilan anak bisa dipoles secara maksimal. Di sisi lain, homeschooling juga bisa memproteksi anak dari efek negatif persekolahan formal, antara lain; perundungan, pergaulan bebas, tawuran, dan lain-lain.
Namun, jangan lupa, menjalani homeschooling tidak segampang teorinya. Butuh komitmen sangat kuat dari pihak anak dan orang tua untuk betul-betul menjalani pendidikan di rumah atau di lingkungan. Waktu dan biaya homeschooling juga besar, dan mungkin bisa lebih besar daripada sekolah formal.
Yang lebih mendasar, homeschooling cenderung membuat anak kurang bersosialisasi dengan sebayanya. Padahal, proses sosialisasi bersama banyak teman itu sangat mengasah life skill anak jika kelak harus terjun ke masyarakat. Bisa jadi, anak homeschool kurang peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya, kurang mampu menyelesaikan situasi sosial yang kompleks dan tidak terprediksi.
Bahkan, ada guyonan, anak homeschooling tidak akan bisa menikmati serunya reuni sekolah kelak di kemudian hari. (*)


