Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pernah merasa kesepian? Dalam waktu, kita tentu pernah mengalaminya. Sesekali merasa, itu wajar. Jika berlebihan, itu perlu diwaspadai.
Mengapa?
Kesepian itu bukan sekadar keadaan ketika kita sedang tidak memiliki teman. Lebih jauh, kesepian itu pengalaman psikologis yang berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan fisik dan mental. Dalam kadar parah, itu bisa berkaitan dengan depresi, kecemasan, dan meningkatnya risiko kematian lebih awal.
Karena itu, para pakar kesejahteraan jiwa memberi perhatian cukup besar terhadap masalah kesepian. Yang banyak disarankan adalah bagaimana menciptakan lebih banyak kesempatan bagi orang kesepian itu untuk berhubungan dengan orang lain.
Tapi, itu hanya satu cara. Suzie Pileggi Pawelski dan Prof James Pawelski, dalam buku mereka Happy Together: Using the Science of Positive Psychology to Build Love That Lasts (2018) menekankan bahwa cara menghadapi kesepian itu jauh lebih beragam.
Salah satu buktinya, ada penelitian pada 2026, yang menganalisis dua survei besar —BBC Loneliness Experiment dan EU Loneliness Survey— dengan total 18.352 responden berusia 16–99 tahun. Para peneliti ingin mengetahui strategi yang secara spontan digunakan orang ketika merasa kesepian dan strategi mana yang mereka anggap membantu.
Hasilnya?
Menghubungi orang lain memang salah satu cara paling umum, terutama untuk menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai dan memperkuat hubungan dengan teman atau keluarga yang sudah ada. Jadi, mengurangi kesepian tidak selalu berarti mencari banyak kenalan baru. Kualitas hubungan yang telah dimiliki juga sangat penting.
Namun, kesepian tidak selalu harus diatasi melalui aktivitas sosial. Dalam penelitian itu, banyak orang justru merasa terbantu dengan menghabiskan waktu sendirian, melakukan hobi, bekerja pada sesuatu yang bermakna, belajar, berolahraga sendiri, atau melakukan aktivitas yang mengalihkan perhatian.
Dengan kata lain, kesendirian dan kesepian bukanlah hal yang selalu sama. Seseorang dapat merasa sendirian tetapi tetap memperoleh kepuasan dan makna dari aktivitas yang dilakukannya.
Strategi yang efektif juga berbeda menurut usia dan gender. Dalam mengatasi kesepian, orang muda lebih sering berbicara dengan keluarga atau teman, menjalani terapi, dan sengaja mengambil waktu untuk diri sendiri. Orang yang lebih tua sering bergabung dengan komunitas, berkenalan dengan tetangga, atau melakukan aktivitas pengalih perhatian.
Perbedaan juga terlihat dalam cara laki-laki dan perempuan memilih serta menilai strategi.
Jadi, kalau boleh saya simpulkan, tidak ada satu resep untuk mengatasi kesepian. Maka, masing-masing orang sebaiknya memiliki semacam loneliness toolkit yang berisi berbagai strategi mengatasi kesepian. Saat merasa kesepian, coba atasi dengan bersosialisasi, sengaja menyendiri, berkarya, berolahraga, belajar, atau minta bantuan psikolog. Satu cara kurang pas, segera terapkan cara yang lain.
Mengatasi rasa kesepian itu lebih menekankan ke pilihan individu. Tidak digebyah uyah. Bukan sekadar bertanya “Bagaimana membuat orang yang kesepian mau bersosialisasi?” Pertanyaannya lebih baik “Apa yang ternyata sudah membantu orang tersebut merasa lebih terhubung dan hidupnya lebih bermakna?”



POST A COMMENT.