Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Akhir pekan, saat santai, ada anaknya teman yang datang untuk curhat. “Kok wajahmu tampak kesal, kenapa?”
“Begini, Tante. Saya dimasukkan ke dalam chat group keagamaan oleh teman-teman. Umumnya isinya bagus, sih. Cuma, ada beberapa anggota yang posting isinya yang saya nggak terlalu suka.”
“Memangnya apa yang mereka bahas?”
“Mereka memang pakai bahasa agamis. Tapi, isinya ejek-ejekan. Kadang, ini yang bikin debat jadi nggak jelas.”
“Kamu sudah bilang kalau kamu jadi kurang nyaman?”
“Belum. Takut saya dibilang nggak asyik.”
————
Pembaca yang budiman, curhatan remaja putri berusia 16 tahun di atas sangat relate dengan kehidupan digital masa kini. Kita bisa bikin atau masuk atau dimasukkan grup obrolan di aplikasi WhatsApp, Telegram, LINE, Messenger, WeChat dan sejenisnya agar bisa komunikasi langsung bareng-bareng.
Masalahnya, kita belum tentu bisa secara psikis maupun fisik menerima isi obrolan itu. Masalah jadi lebih rumit jika anggota grup itu orang-orang yang kita kenal dengan baik, atau tema grup itu dikenal bagus, atau sebagian besar materi obrolan juga bermanfaat.
Chat group umumnya awalnya dibuat untuk mempermudah komunikasi, tetapi lama-kelamaan bisa berubah menjadi sumber stres, kelelahan sosial, bahkan rasa bersalah yang aneh. Bayangin, ada yang kirim meme tiap lima menit, ada yang debat hal nggak penting, ada juga yang tiba-tiba kirim video random tengah malam.
Akibatnya, kita bisa merasa capek secara mental bahkan hanya karena melihat notifikasi yang tidak ada habisnya. Nah, kalau ini sudah terjadi; bagaimana cara keluar dari chat group tanpa bikin suasana jadi awkward atau tanpa memicu drama?
Chat group memang bukan ruang digital biasa. Di dalamnya ada hubungan sosial, ada perasaan diterima, ada rasa takut ketinggalan informasi (FOMO), sampai ada kekhawatiran dianggap tidak peduli kalau jarang merespons. Karena itu, keluar dari grup sering terasa lebih sulit daripada sekadar pencet tombol ‘Leave Group’.
Maka, sebelum memutuskan keluar, ada baiknya untuk cek dulu apakah masalahnya benar-benar di grup tersebut atau sekadar notifikasinya terlalu ramai. Kalau soal ramainya notifikasi, solusi paling simpel cukup dengan mute grup, arsipkan chat, atau mengurangi frekuensi membuka aplikasi. Dengan begitu, kita masih tetap terhubung dengan grup tanpa harus terus-menerus terganggu.
Kalau memang yakin ingin keluar, pertimbangkan bahwa etika tetap penting. Maka, lebih sopan jika kita memberi tahu terlebih dahulu sebelum meninggalkan grup. Nggak perlu bikin pidato panjang atau curhat berlembar-lembar. Cukup beri pesan singkat, misalnya, “Maaf, saya sedang mengurangi notifikasi dan aktivitas grup, ya. Kalau ada hal penting, bisa hubungi saya langsung.” Pesan seperti ini membuat anggota lain paham bahwa keputusan kita bukan serangan pribadi terhadap mereka.
Pendekatan yang digunakan juga sebaiknya disesuaikan dengan jenis grupnya. Kalau grup berisi sahabat dekat atau keluarga, penjelasan yang lebih personal biasanya lebih dihargai. Kalau grup hanya berisi kenalan, komunitas sementara, atau grup acara yang sudah selesai, cukup berpamitan secara singkat dan sopan.
Pendeknya, menjaga kesehatan mental dan batasan pribadi itu lebih penting buat kita sendiri. Kita tidak wajib selalu online, selalu membalas setiap pesan, atau selalu hadir di setiap ruang digital. Keluar dari chat group bukan berarti memutus pertemanan. Justru kadang itu adalah cara untuk mengatur energi dan fokus pada hubungan yang benar-benar bermakna. Selama dilakukan dengan jujur, sopan, dan tanpa menyalahkan orang lain, leave group tidak harus berakhir dengan situasi ala drama Korea.



POST A COMMENT.