mepnews.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang meraih status kemitraan global bagi Organisasi PBB yang mengurus Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan itu.
Dikabarkan situs resmi umm.ac.id, pencapaian ini hasil dari dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi SPsi MPsi PhD, menegaskan visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus berinovasi hingga menembus kemitraan UNESCO.
Sebagai UNESCO Chair and Host Institution, UMM mengemban amanah memotori program keberlanjutan ekosistem air.
Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Karena terdesak, petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi vila sehingga berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM lalu hadir memberikan solusi melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen.
“Kami memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kami otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sana, pada 2024, UMM mendapat penghargaan UNESCO atas upaya konservasi subak,” kata Salis.
Kedua, UMM menerjunkan 52 akademisi ]ke Nusa Tenggara Timur untuk pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat.
Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen.
Pengakuan dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah.
“Kami tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan, untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” kata ia. (Faqih Ahmad)


