Mengenal 9 Kategori Gejala ADHD; Bukan Sekadar 3 Tipe

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat menunggu kereta di stasiun, tanpa sengaja saya dengar dua wanita muda yang sepertinya sedang curhatan. Suara yang saya tangkap kira-kira seperti ini;

Ibu 1: Aduh, kenapa ya anakku? Dia itu susah banget fokus. Disuruh duduk sebentar aja gelisah.

Ibu 2: Iya, aku juga lihat itu. Anakmu, kalau lagi main, pindah-pindah terus. Nggak sekadar aktif, tapi rasanya lain, gitu.

Ibu 1: Mungkin anakku ADHD, ya?

Ibu 2: Astaghfirullah, jangan sampai ah. Takutnya malah kamu yang overthinking.

Ibu 1: Tapi, saya merasa perlu khawatir kalau memang ada yang perlu diperhatikan sejak dini.

Ibu 2: Ya, sudah. Bawa anakmu ke psikiater saja.

………….

Pembaca yang budiman, saya tidak melanjutkan nguping curhatan mereka karena kereta yang saya tunggu sudah datang. Saya sekarang ingin menuliskan apa yang dua ibu tadi perlu ketahui tentang kondisi si anak jika memang terindikasi ADHD.

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang memusatkan perhatian, mengontrol perilaku, dan mengatur aktivitas. ADHD biasanya mulai terlihat saat masa anak-anak, tetapi bisa berlanjut sampai remaja bahkan dewasa. Gangguan ini membuat perilaku si anak tampak seperti nakal, bandel, atau kurang disiplin. Tampaknya seperti perilaku, tapi sejatinya lebih ke arah permasalahan cara kerja otak.

Dulu, ADHD umumnya diklasifikasikan ke dalam tiga tipe utama: dominan kurang perhatian (inattentive), dominan hiperaktif-impulsif, dan kombinasi keduanya. Namun, seiring dengan makin detilnya penelitian, gejala ADHD dapat dikelompokkan ke dalam sembilan kategori yang lebih spesifik.

Penglompokan ini berdasarkan penelitian yang menggunakan analisis data berskala besar dan metode statistik canggih untuk mengidentifikasi pola gejala yang sering muncul bersamaan. Hasil penelitian tim Crambrigde University ini dipublikasikan di Irish Journal of Psychological Medicine.

Setiap individu dengan ADHD bisa memiliki kombinasi gejala yang unik, sehingga tidak selalu cocok dimasukkan ke dalam tiga kategori lama yang lebih umum. Beberapa orang mungkin lebih menonjol dalam kesulitan mengatur emosi, sementara yang lain lebih mengalami masalah fokus atau impulsivitas.

Nah, para peneliti menemukan sembilan kategori yang mencerminkan berbagai aspek fungsi kognitif dan perilaku. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa ADHD bukanlah kondisi yang seragam, melainkan spektrum dengan variasi luas. Sembilan kategori gejala itu meliputi;

1. Kesulitan perhatian berkelanjutan (sustained attention)
Sulit mempertahankan fokus dalam waktu lama, terutama pada tugas yang monoton. Contohnya, tugas membaca atau mendengarkan penjelasan panjang.

2. Distraktibilitas tinggi alias mudah terdistraksi
Perhatian mudah teralihkan oleh bahkan rangsangan kecil dari lingkungan (suara, gerakan) maupun dari pikiran sendiri.

3. Disorganisasi dan manajemen waktu yang buruk
Kesulitan mengatur waktu tugas, sering lupa deadline, pekerjaan berantakan, dan sulit memprioritaskan mana yang harus lebih dulu dikerjakan dan mana yang bisa ditunda.

4. Impulsivitas perilaku
Bertindak tanpa berpikir panjang. Misalnya; suka menyela pembicaraan, tiba-tiba mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensi.

5. Hiperaktivitas fisik
Ini biasa muncul pada anak-anak. Ada kebutuhan untuk terus bergerak, selalu tampak gelisah, sulit duduk diam/tenang. saat sudah remaja/dewasa, kebutuhan ini mungkin muncul namun bisa dalam bentuk lebih halus.

6. Disregulasi emosi
Emosi mudah berubah, cepat marah, frustrasi berlebihan, atau kesulitan menenangkan diri setelah emosi terlanjur meningkat.

7. Sensitivitas terhadap reward (motivasi berbasis imbalan)
Cenderung hanya termotivasi oleh hal yang langsung memberinya kepuasan. Maka, tugas jangka panjang atau yang ‘tidak menarik’ sering dihindari.

8. Kesulitan fungsi eksekutif
Ini meliputi kemampuan untuk merencanakan, mengingat instruksi, mengatur langkah kerja, dan menyelesaikan tugas secara sistematis.

9. Masalah kontrol kognitif (inhibitory control)
Sulit menahan respons otomatis, dalam pikiran (melamun, loncat ide) maupun dalam tindakan (bicara atau bertindak terlalu cepat).

Setiap individu dengan ADHD bisa memiliki kombinasi unik dari sembilan aspek tersebut. Misalnya, seseorang bisa sangat menonjol dalam masalah emosi dan impulsivitas, tetapi tidak terlalu hiperaktif. Yang lain mungkin justru dominan pada disorganisasi dan perhatian.

Dengan temuan katagori lebih beragam ini, si ibu di atas dan para profesional kejiawaan melihat ADHD sebagai spektrum profil gejala dan bukan sekadar tiga tipe yang kaku. Jika gejala dikenali lebih rinci, penanganan bisa lebih tepat sasaran. Misalnya, cukup fokus pada pelatihan regulasi emosi, strategi manajemen waktu, atau teknik peningkatan fokus, yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Terapi, atau pengobatan, bisa disesuaikan dengan profil gejala masing-masing individu, dan bukan hanya berdasarkan kategori umum.

Temuan ini juga bisa membantu mengurangi stigma terhadap ADHD. Dengan menunjukkan bahwa gejalanya sangat beragam, masyarakat dapat lebih memahami bahwa setiap penderita memiliki pengalaman berbeda. Hal ini penting untuk meningkatkan empati serta dukungan terhadap individu dengan ADHD.

Facebook Comments

POST A COMMENT.