Deforestasi Melonjak 66 Persen, Awas Risiko Bencana dan Krisis Pangan

mepnews.id – Indonesia terus menghadapi ancaman lingkungan hidup. Data terbaru menunjukkan, deforestasi pada 2025 mencapai 433.751 hektare atau meningkat 66 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini dinilai sebagai sinyal kuat tekanan terhadap bentang alam nasional.

Prof Dian Fiantis, pakar Universitas Andalas.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Prof Dian Fiantis, mengingatkan tren tersebut memiliki dampak nyata terhadap meningkatnya risiko bencana, khususnya di wilayah Sumatera.

“Lonjakan deforestasi ini berbanding lurus dengan rentetan bencana, terutama banjir dan longsor di penghujung 2025. Ini menunjukkan adanya korelasi kuat, terutama akibat kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu,” ujar Prof Dian lewat situs resmi unand.ac.id.

Data menunjukkan seluruh pulau besar di Indonesia mengalami penyusutan hutan. Kalimantan tetap menjadi wilayah dengan deforestasi terbesar sejak 2013. Tanah Papua mencatat lonjakan signifikan hingga 348 persen atau bertambah 60.337 hektare dibanding 2024. Di Sumatera, tiga provinsi mencatat deforestasi drastis. Aceh 426 persen, Sumatera Utara 281 persen, dan Sumatera Barat 1.034 persen.

Menurut Prof Dian, kondisi ini berimplikasi langsung terhadap ketahanan pangan nasional. Ia menjelaskan, Sumatera merupakan salah satu sentra produksi pangan utama, selain Jawa dan Sulawesi.

“Sumatera memiliki tanah vulkanis dan aluvial yang sangat produktif. Ketika hutan hilang, bukan hanya keanekaragaman hayati yang terancam, tetapi juga produktivitas lahan pertanian. Dampaknya bisa sampai pada ketersediaan pangan di pasar nasional,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan deforestasi juga berpotensi memperparah dampak fenomena iklim global seperti El Niño. Berdasarkan berbagai model iklim, ancaman ini diperkirakan mulai terjadi April 2026 dengan intensitas kuat.

“Hutan tropis berperan penting menjaga siklus air melalui evapotranspirasi. Ketika hutan gundul, udara menjadi lebih kering, pembentukan awan berkurang, dan curah hujan menurun. Ini membuat wilayah menjadi lebih rentan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan,” katanya.

Ia menambahkan, risiko terbesar justru muncul pada fase peralihan setelah El Niño, ketika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi. Kondisi tanah yang telah kehilangan struktur akibat kekeringan tidak lagi mampu menyerap air secara optimal. “Akibatnya, air langsung menjadi limpasan di permukaan, yang memicu banjir dan longsor. Ini yang disebut bencana hidrometeorologi.”

Prof Dian menilai, bencana saat ini tidak lagi bisa dilihat sebagai akibat dari faktor tunggal. Interaksi antara perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan memperparah dampak. “Maka, pendekatan kita membaca risiko bencana harus berubah. Tidak cukup hanya melihat cuaca, tetapi juga kondisi hutan, tanah, dan keseluruhan sistem ekologi,” tegasnya.

Jika deforestasi terus terjadi tanpa pengendalian, Indonesia berisiko terjebak lingkaran bencana yang berulang mulai dari kekeringan, kebakaran hutan, hingga banjir dan longsor. “Yang kita hadapi bukan hanya bencana sesaat, tetapi melemahnya kemampuan alam dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan melindungi kehidupan.”

Facebook Comments

Comments are closed.