mepnews.id – Perang di Timur Tengah dan ketegangan geopolitik memaksa perekonomian tersendat. Terhambatnya suplai minyak bumi membuat produksi plastik jadi menurun. Akibatnya, terjadi lonjakan harga plastik hingga 100 persen.
Pada April 2026, harga plastik tas kresek naik tajam jadi Rp15.000 – Rp25.000 per pak, plastik PE bening (kiloan) jadi Rp6.500 – Rp12.300 per pak, plastik kantong sampah (trash bag) jadi Rp19.000 – Rp30.250 per pak, plastik packing yang biasa untuk online shop harganya mulai dari Rp220 per lembar.
Kenaikan harga ini cukup menngganggu operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dikabarkan situs resmi umm.ac.id, bahkan tren kenaikan harga ekstrem ini bertransformasi menjadi ‘biaya siluman’ yang menggerus margin keuntungan pedagang kecil.

M. Sri Wahyudi Suliswanto PhD.
Menghadapi kondisi ini, pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto SE ME PhD, menyarankan strategi dua arah. Satu, UMKM segera menjadikan situasi ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai dengan cara memberikan diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri. Dua, pemerintah mencari pemasok alternatif bahan plastik dari negara non-konflik.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM ini menyoroti lebih khusus posisi UMKM kuliner di Malang sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak memaksa pelaku usaha masuk dilema. Jika nekat menaikkan harga jual, risikonya para pembeli setia mencari alternatif penjual lain mengingat daya beli masyarakat tergolong masih lesu. Jika menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha terancam gulung tikar.
Wahyudi memaparkan, krisis ini membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Kondisi ini diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung naik.”
Menghadapi kondisi ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi. “Ini saat paling tepat untuk memukul kebiasaan penggunaan plastik.”
Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang.
Namun, Wahyudi mengingatkan beban ini tidak bisa dipikul sendirian. Komponen plastik ini digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Maka, intervensi negara adalah kebijakan yang tidak bisa ditawar.
“Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran, karena daya rusaknya sangat luas,” kata ia.
Menurutnya, langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik.
Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik.(Roudhotul Mufarikha)


