Potensi Domba Awassi

mepnews.id – Tim Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan pelatihan dan penyuluhan ‘Potensi Pengembangan Awassi sebagai Domba Perah di Indonesia’ di Malang, tepatnya di Kandang Kambing Burja, Kecamatan Lawang, di Kandang Kemitraan Klaster Closed Loop Joyo Setinggil di Kecamatan Karangploso, pada 4 Februari 2025.

Awassi adalah salah satu jenis domba perah dari kawasan Mesopotamia di Timur Tengah. Domba ekor gemuk ini bobotnya sekitar 70 kg untuk jantan dan 68 kg untuk betina. Warna bulu umumnya putih dengan kepala dan kaki berwarna coklat.  Profil wajahnya cembung dengan telinga menggantung. Pejantan biasanya bertanduk, betina lebih sering tidak bertanduk.

Ini salah satu jenis domba ‘tahan banting’. Mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, termasuk suhu ekstrem dan padang rumput minim. Kuat berjalan jauh untuk mencari pakan. Jika tidak ada rumput atau musim paceklik, domba ini dapat memanfaatkan cadangan energi di ekor gemuknya. Maka, ia bisa dipelihara dari sistem penggembalaan nomaden hingga peternakan intensif. Kemampuan beradaptasinya diperkuat dengan sistem ketahanan tubuh terhadap serangan berbagai penyakit dan parasit.

Selain kemampuan beradaptasi, domba Awassi dikenal sebagai penghasil susu dengan kualitas dan kuantitas baik yakni rata-rata 1,8 liter per hari. Pertumbuhan ototnya relatif cepat yakni 5-6 kg per bulan untuk betina dan 7-8 kg per bulan untuk jantan sehingga ideal untuk panen optimal dalam waktu singkat. Awassi menunjukkan efisiensi tinggi dalam pemanfaatan pakan.

“Domba ini menjadi pilihan unggul bagi peternak yang ingin mendapatkan manfaat ganda dari susu dan daging. Sangat cocok dikembangkan di Indonesia,” papar Prof Ir Yustina Yuni Suranindyah MS PhD IPM, guru besar Fakultas Peternakan UGM, lewat situs resmi ugm.ac.id.

Ir Rochijan SPt MSc IPM, dosen Fakultas Peternakan UGM, menilai domba Awassi memiliki karkas berkualitas tinggi, dengan persentase sekitar 51 persen. Karkas adalah bagian tubuh setelah proses pemotongan yang mencakup daging tanpa kepala, darah, organ-organ internal, kaki, dan kulit.

Varian seperti Awassi F1 dan Awassi fullblood punya keunggulan genetik. Misalnya, pejantan fullblood memberikan hasil unggul dalam pertumbuhan otot, produksi susu, dan daya adaptasi.

Dalam pelatihan di Malang, Prof Yustina dan Rochijan memberikan wawasan ilmiah dan praktis mengenai karakteristik domba perah dan manajemen pemerahan.

Pelatihan dan penyuluhan ini didampingi Martinus Alexander SSi founder Usaha Bisnis Kambing Burja dan Domba Dorsip. Acara diakhiri dengan pelatihan pengukuran tubuh, ukuran ambing dan puting, perlemakan ekor, serta pengamatan karakteristik Awassi.

Acara diikuti peternak mitra, akademisi, dan praktisi industri susu.

Facebook Comments

Comments are closed.