mepnews.id – Desa Gamplong di Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dikenal sebagai destinasi unggulan wisata karena ada Studio Alam Gamplong. Tapi, masih banyak potensi wisata Gamplong yang belum dipublikasikan. Ada berbagai usaha kerajinan, termasuk tenun tradisional, aksesoris dan dekorasi rumah, dari bahan-bahan alami rotan, bambu, pasir, dan serat alam.
Meski telah menjadi destinasi wisata, Desa Wisata Gamplong masih menghadapi kendala pengelolaan. Belum ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas sehingga menjadi hambatan dalam koordinasi antara pengelola desa, pengrajin, dan wisatawan.
Sebagai dukungan membantu Gamplong menjadi desa wisata lebih profesional, mahasiswa Program Studi Pariwisata FIB Universitas Gadjah Mada menginisiasi forum diskusi penyusunan SOP. Forum ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pengelola desa, ketua divisi, dan anggota-anggota divisi.
“Forum membahas beberapa poin utama. Antara lain standarisasi alur kunjungan wisatawan, panduan dari proses reservasi hingga pengantaran wisatawan, pengaturan waktu aktivitas seperti belajar membuat kerajinan, hingga menikmati kuliner,” kata Franzeska Aurellia Oenang mahasiswa prodi Pariwisata FIB UGM, lewat situs resmi ugm.ac.id.
Dalam diskusi bersama para ketua divisi, kata Aurellia, terungkap beberapa permasalahan utama. Kurangnya panduan kerja untuk masing-masing divisi. Ketidakjelasan pembagian tugas, terutama dalam menyambut wisatawan ketika jumlah kunjungan meningkat. Ini menimbulkan kebingungan dalam pelaksanaannya.
“Sistem monitoring dan evaluasi juga dibahas, termasuk penjadwalan evaluasi rutin untuk menilai efektivitas SOP dan memberikan ruang bagi masukan wisatawan guna meningkatkan kualitas layanan,” ungkapnya.
Yang tak kalah penting, pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan juga menjadi perhatian. Dengan penyusunan SOP, kebersihan desa wisata bakal terjaga. Pengrajin juga bisa menggunakan bahan ramah lingkungan dalam produknya.
“Dengan adanya SOP yang terstandarisasi, Desa Wisata Gamplong diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaan sehingga mampu memberikan pengalaman wisata yang lebih baik. SOP juga menjadi langkah penting dalam memastikan keberlanjutan desa wisata ini di masa depan,” katanya.
Bagi Aurellia, Gamplong memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai destinasi wisata. “Dengan kolaborasi antara mahasiswa, pengelola, dan masyarakat lokal, desa ini akan semakin siap bersaing di kancah nasional maupun internasional,” jelasnya. (Gusti Grehenson)


