mepnews.id – Perpustakaan memainkan peran penting dalam pengembangan reputasi institusi. Namun rendahnya tingkat literasi masyarakat seringkali menjadi tantangan. Ini diakibatkan minimnya standar kompetensi pustakawan dalam mengelola perpustakaan. Hal ini ditegaskan Plt. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminuddin Aziz MA PhD, dalam seminar ‘Kontribusi Perpustakaan dalam Pengembangan Reputasi Institusi’.
Dikabarkan situs resmi umm.ac.id, seminar ini merupakan agenda dari Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (FPPTMA) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 5-7 Juni 2024, dan dihadiri para pustakawan dari berbagai universitas di Indonesia.
Aminuddin menuturkan, program intervensi seperti pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi perlu dilakukan. Misalnya dengan pengadaan program pojok baca digital, penguatan perpustakaan di tingkat desa atau kelurahan, hingga pemenuhan fasilitas perpustakaan khusus dan perguruan tinggi.
“Selain itu, penting untuk menjalankan kebijakan standarisasi dan akreditasi perpustakaan. Ini meliputi diklat tenaga perpustakaan, perlunya mengikuti sertifikasi dan uji kompetensi bagi pustakawan, serta memperkuat gerakan indonesia membaca bagi calon pembaca dan pengunjung perpustakaan,” tambahnya.
Dr Labibah MLIS, kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengingatkan perpustakaan harus jadi bagian integral kampus dengan koleksi pengetahuan yang lengkap dalam format elektronik, cetak, maupun digital.
“Tenaga perpustakaan harus mampu menciptakan inovasi sistem untuk mempermudah akses dan pencarian buku. Bahkan, perpustakaan kampus harus memiliki program dan layanan profesional untuk meningkatkan kesadaran warga kampus akan pentingnya perpustakaan dalam mencari pengetahuan,” jelasnya.
Untuk mencapai tujuan ini, pustakawan perlu menjalin hubungan baik dengan unit lain di kampus dan mengintegrasikan kegiatan dengan kebutuhan akademik dan administratif yang lebih luas. Hal ini akan mempromosikan layanan perpustakaan yang lebih komprehensif dan bermanfaat bagi seluruh sivitas akademika.
Ia juga menekankan, perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku tetapi juga pusat kegiatan intelektual dinamis. Dengan demikian, perpustakaan harus terus berinovasi dalam menyediakan berbagai sumber daya dan layanan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna. Pustakawan harus proaktif mendukung kegiatan penelitian, pembelajaran, dan publikasi ilmiah.
Selain layanan dan akses, personal branding pustakawan juga berperan penting dalam memperkaya fungsi perpustakaan. Dian Puspitasari SAP, sekretaris II PP FPPTMA sekaligus pustakawan UMM, menyampaikan personal branding pustakawan dibentuk tiga dimensi utama.
Pertama, pustakawan harus memiliki kompetensi khusus di bidang yang dikuasai. Kemampuan ini harus diimbangi dengan metode komunikasi yang baik. Pustakawan perlu melatih keterampilan berbicara di depan umum dan bisa terlibat sebagai content creator. Berpartisipasi dalam berbagai kompetisi yang diselenggarakan Perpusnas maupun forum perpustakaan lainnya, juga sangat dianjurkan untuk meningkatkan kompetensi ini.
“Kedua, style. Ini mencakup lebih dari sekadar tampilan fisik, tapi juga mengenai kepribadian. Dengan berpenampilan trendy dan mampu menciptakan inovasi, pustakawan dapat memberikan kontribusi lebih signifikan,” tegasnya.
Terakhir, standar tujuan dan capaian yang harus dimiliki pustakawan. Mereka perlu memiliki spesialisasi yang mencakup kemampuan, visi, misi, dan prinsip yang kuat. Berjejaring dengan sesama pustakawan dan memiliki keterampilan dalam literasi informasi.
Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi, menyebut FPPTMA berperan penting dalam meningkatkan akses ke perpustakaan. Ia mencontohkan Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar. Awalnya ini perpustakaan pribadi Ahmad Malik Fadjar, dan kini telah di-upgrade menjadi digital dan memproduksi banyak buku tentang pemikiran Bapak Malik Fadjar.
“Dengan adanya forum seperti ini, diharapkan dapat melahirkan pemikiran baru dan memberikan energi baru bagi kita semua agar bisa menatap masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya. (lai/wil)


