Mahasiswi Psikologi Unair Lulus Tanpa Skripsi

mepnews.id – Nidya Almira Xavier Herda Putri, mahasiswi Fakultas Psikologi angkatan 2018 Universitas Airlangga (Unair) lulus kuliah tanpa Skripsi tapi dengan konversi PKM Karsa Cipta.

Dulu, syarat kelulusan mahasiswa program sarjana seringkali memerlukan tugas akhir skripsi. Kini, ada metode lulus tanpa skripsi alias dilakukan konversi. Unair turut menerapkan metode lulus tanpa skripsi, meski belum  untuk semua jurusan. Psikologi menjadi salah satu fakultas yang memperbolehkan mahasiswa lulus tanpa skripsi, namun dengan persyaratan lain. Misalnya, konversi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Nindya merasa konversi skripsi dengan PKM merupakan hal baru yang menantang. Menurutnya, penelitian PKM sama sulitnya dengan penelitian skripsi.

“Konversi skripsi dengan PKM adalah salah satu privilege untuk merasakan pengalaman ‘skripsi yang levelnya di-upgrade‘. Maksudnya, aku merasa yang aku kerjakan selama PKM kurang lebih sama dengan apa yang seharusnya aku lakukan ketika mengerjakan skripsi,” ucapnya pada UNAIR NEWS, 26 September 2023.

Penyusunan PKM sama seperti skripsi. Dari pembuatan proposal berisi latar belakang hingga metode, bimbingan dengan dosen, sampai sidang dan penyusunan laporan akhir.

“Bedanya, di PKM aku dapat ‘bimbingan ekslusif’ dari tim pembina dari Unair dalam bentuk monitoring dan evaluasi bulanan, bantuan dana dari pemerintah, dan bisa merasakan langsung sidang di hadapan para reviewer dari luar daerah,” paparnya.

Untuk PKM, Nidya membuat aplikasi self-care berbasis kecerdasan buatan sebagai upaya menurunkan risiko depresi bagi remaja. Aplikasi ini diberi nama SEJATI. Prototype aplikasi dengan fitur lengkap telah diuji coba oleh beberapa orang dengan kriteria yang sudah ditentukan dan disesuaikan.

“Aplikasi ini terdiri dari fitur rekomendasi aktivitas self-care, artikel kesehatan mental, mood tracker, serta ENO Chatbot fitur utama kecerdasan buatan yang dapat mendengarkan cerita dari pengguna,” jelas Nidya.

Alasannya melakukan penelitian ini untuk menurunkan risiko depresi. Menurutnya, depresi adalah gangguan mental dengan prevalensi tertinggi di Indonesia, terutama untuk kelompok remaja. Ia berharap aplikasi buatannya dapat terus dikembangkan.

“ENO jadi fitur utama karena harapannya chatbot bisa jadi teman cerita bagi para penggunanya, sehingga mereka bisa merasa didengarkan kapan saja dan di mana saja. Jangka panjangnya, saya berharap aplikasi ini bisa mengurangi stigma kesehatan mental di Indonesia,” tuturnya.

Nidya mengaku awalnya tidak terpikir untuk melakukan konversi skripsi. Namun, sejak bergabung dengan organisasi Garuda Sakti Unair, ia belajar mengenai PKM dan mencoba terjun langsung.

Nidya berharapan program konversi skripsi dapat menjadi tonggak bagi iklim kebebasan akademik. “Semoga mahasiswa fokus pada pengalaman lebih praktis, dan memberi mereka ruang untuk mengembangkan diri dalam bentuk apapun tanpa mengurangi esensi dan manfaat yang akan mereka dapat,” tukasnya.

Facebook Comments

Comments are closed.