mepnews.id – Pagi baru menyentuh Pulau Bawean ketika suara anak-anak memenuhi ruang kelas di Desa Kumalasa. Di balik kesederhanaan bangunan, sebuah gagasan tengah ditanamkan. Gagasan tentang bagaimana masa depan satwa liar, spesies endemik, bergantung pada pemahaman generasi muda.
Pada 6 April 2026, Tim RKW 09 Gresik–Bawean bersama Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) melaksanakan kegiatan penguatan kesadaran konservasi yang menjadi bagian dari strategi mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar. Dikabarkan situs resmi bbksdajatim.org, fokuskegiatan pada perlindungan sekaligus membangun hubungan baru antara manusia dan alam. Ini dimulai dari ruang-ruang pendidikan.
Di hadapan siswa sekolah dasar, konsep konservasi diterjemahkan menjadi tindakan sederhana: tidak berburu, tidak merusak habitat, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Pulau Bawean adalah rumah bagi Rusa Bawean, spesies endemik yang menghadapi tekanan dari perubahan lanskap serta interaksi dengan manusia.
Maka, edukasi menjadi pintu masuk. Anak-anak, yang selama ini menjadi saksi perubahan di sekitar, diposisikan sebagai agen perubahan. Mereka menjadi penjaga masa depan yang saat ini belum sepenuhnya mereka pahami tetapi mulai mereka kenali.
Beberapa kilometer dari lokasi, tepanya di Desa Suwari, realitas kompleks terbentang. Di wilayah ini, batas antara habitat satwa liar dan ruang hidup manusia semakin tipis. Ladang pertanian bersinggungan dengan jalur jelajah satwa, menciptakan potensi konflik.
Tim RKW 09 Gresik–Bawean bersama Yayasan ABI beralih dari pendekatan edukatif ke pendekatan sosial. Bersama pemerintah desa, tim mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling terdampak, petani yang lahannya bersentuhan dengan habitat, serta kelompok masyarakat yang memiliki relasi historis dengan satwa liar.
Diskusi berlangsung dengan pendekatan yang tidak menghakimi. Strategi komunikasi dirancang untuk memahami realitas sosial-ekonomi masyarakat, sekaligus membangun kesepahaman bahwa konservasi bukanlah pembatas, melainkan jaminan keberlanjutan.
Dari pertemuan itu, lahir rencana tindak lanjut, sosialisasi partisipatif yang akan melibatkan sekitar 40 warga.
Kegiatan ini menunjukkan satu hal; konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan hutan, tetapi bisa dari ruang-ruang interaksi manusia. Dari kelas sekolah, dari balai desa, dari percakapan yang pelan namun berkelanjutan.
Di Pulau Bawean, langkah kecil itu sedang dirintis. Sebuah upaya yang mungkin tak terdengar lantang, tetapi menyimpan harapan besar: menjaga harmoni antara manusia dan alam, sebelum konflik menjadi cerita yang terlambat untuk diperbaiki. (Nurhayyan Jahansyah)



POST A COMMENT.