Tips Keuangan saat Ramadan; Jangan Lapar Mata

mepnews.id – Ramadan sering memicu kenaikan pengeluaran rumah tangga. Lonjakan harga pangan dan tradisi buka bersama menjadi faktor kebocoran anggaran. Tanpa perencanaan matang, kondisi finansial bisa memburuk setelah hari raya.

Arisona Ahmad, dosen Polije.

Koordinator Prodi Akuntansi Sektor Publik Politeknik Negeri Jember (Polije), Arisona Ahmad, membagikan tips mengelola keuangan dengan menjadikan Ramadan sebagai momentum disiplin finansial. Ilmu akuntansi harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat disiplin keuangan bagi seluruh mahasiswa dan pegawai,” ujar Arisona, lewat situs resmi polije.ac.id.

Arisona menyarankan mahasiswa menerapkan sistem anggaran mingguan yang ketat. Harus memprioritaskan kebutuhan sahur daripada sekadar tren nongkrong berbayar, dan mencatat pengeluaran harian, sehingga bisa memantau sisa uang saku. “Buka bersama boleh, tetapi tetap harus sesuai anggaran yang sudah direncanakan sejak awal,” imbuhnya.

Bagi pegawai, pengelolaan Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi poin krusial. “Janga habiskan bonus hanya untuk konsumsi sesaat. Pembagian alokasi dana secara proporsional menjamin stabilitas keuangan keluarga. Perencanaan baik hari ini bisa memberikan ketenangan setelah Idul Fitri,” jelas Arisona.

Ia menyodorkan prinsip 60-20-10-10 sebagai panduan praktis alokasi gaji. Gunakan 60% untuk kebutuhan pokok dan 20% bagi urusan ibadah sosial. Sisanya, 10% untuk gaya hidup dan 10% sebagai tabungan masa depan. “Ramadhan adalah latihan mengendalikan diri, termasuk dalam hal mengelola uang secara bijak,” tegasnya.

Kendalikan ‘lapar mata’ saat mengunjungi bazar atau melihat promo belanja online. Lebih baik buat daftar belanja sebelum pergi ke pasar. Hindari belanja saat perut lapar guna meminimalisir pembelian barang tidak perlu. “Ingat, diskon bukan berarti kebutuhan. Jangan terjebak pada keinginan konsumtif berlebihan,” tambah Arisona.

Ramadan merupakan saat terbaik memaksimalkan sedekah tanpa mengganggu arus kas pribadi. Perencanaan dana sosial sejak awal bulan mencegah kekurangan uang di akhir puasa. Efisiensi mencerminkan kualitas diri sebagai insan pendidikan vokasi yang cerdas. “Disiplin mengelola keuangan adalah tanggung jawab moral dan profesional kita sebagai insan akademik,” ucapnya.

Prinsip utama keuangan Ramadan adalah sederhana dalam konsumsi namun maksimal dalam keberkahan. Penghematan dari pengurangan aktivitas non-esensial bisa dialihkan menjadi investasi produktif.  “Semoga Ramadan tahun ini memperkuat literasi dan ketahanan keuangan kita semua,” kata Arisona.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.