Trump Berpotensi Merusak Norma dan Hukum Internasional

mepnews.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan itikad merebut Greenland dengan cara apapun. Ia beralasan, Amerika Serikat bakal lebih aman jika dapat mengendalikan wilayah Denmark, mengingat meningkatnya aktivitas Rusia dan Cina di kawasan Arktik. Jika pihaknya tidak segera merebut Greenland, maka Rusia dan Cina akan melakukannya.

Prof Rachmat Yuliantoro

Prof Dr Nur Rachmat Yuliantoro SIP MA, guru besar Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, menilai keinginan Trump merebut Greenland merupakan hal yang perlu ditanggapi serius, meski hal ini bukan kebijakan realistis.

“Greenland secara geografis memiliki wilayah strategis dan menjadikan penting bagi sistem pertahanan AS sebagai jalur pelayaran masa depan dan akses ke mineral kritis. Namun, kehendak ‘merebut’ wilayah ini bukanlah hal yang realistis,” kata Nur, lewat situs resmi ugm.ac.id.

Ia menjelaskan, keinginannya tersebut merupakan gaya khas Trump yang provokatif, langsung pada sasaran, dan penuh daya kejut, dengan tetap memperhitungkan geopolitik. “Saya kira, akan lebih tepat membaca keinginan Trump itu sebagai bargaining tactic dan signal politics, dengan tiga target audiens.”

Di hadapan publik Amerika, Trump menampilkan diri sebagai pemimpin yang siap ‘mengamankan aset’ demi keamanan nasional. Di hadapan sekutu, khususnya Denmark, ia mengirim sinyal tekanan agar negara itu lebih sejalan dengan agenda keamanan Amerika Serikat di kawasan. Kepada publik dunia lebih luas, Trump hendak memberi pesan kepada Rusia dan Cina bahwa Amerika Serikat akan terus meluaskan hegemoni.

Sikap Trump ingin merebut Greenland dengan cara apapun tersebut dapat dilihat dari sisi kepribadiannya sebagai pemimpin. Narsisme politik Trump memperkuat kecenderungan personalisasi geopolitik, yang mana teritori diperlakukan seperti properti dan hubungan internasional layaknya negosiasi bisnis. Di saat yang sama, Trump mengekspos kecenderungan ekspansionisme transaksional, yaitu ingin menegaskan Amerika Serikat dapat mendominasi, bukan bermaksud membangun imperium ideologis.

“Trump menjadikan Greenland sebagai ‘panggung’. Kehendaknya merebut wilayah ini terbukti efektif menciptakan kegaduhan, menguji reaksi, dan menggeser batas-batas wacana diplomatik,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Greenland sebagai simbol ‘major deal‘ yang menunjukkan siapa yang kuat dan siapa pula yang harus menyesuaikan diri.

Tapi, jika Trump benar-benar merebut Greenland, Nur memprediksi dampak serius terhadap stabilitas global. “Apa yang dilakukan Donald Trump merupakan bentuk tantangan terbuka terhadap kedaulatan negara dan penentuan nasib sendiri,” imbuhnya.

Tindakan tersebut juga secara langsung merusak legitimasi tatanan internasional berbasis aturan, yang berdampak pada terguncangnya hubungan trans-Atlantik. Saat kondisi Denmark dan Greenland memanas, Uni Eropa bereaksi semakin keras, sehingga NATO kian melemah secara politik.

“Jika hal ini terjadi akan menunjukkan semakin tersisihnya norma dan hukum internasional sehingga digantikan kekuatan material dan pemaksaan kehendak. Ini penanda bagi pergeseran tatanan internasional menjadi lebih kasar, transaksional, dan penuh risiko,” kata Nur. (Fatihah Salwa Rasyid)

Facebook Comments

Comments are closed.