Memperlakukan atau Diperlakukan Uang?

Oleh: Budi Winarto*

mepnews.idThe Psychology of Money, buku karya Morgan Hausel, menceritakan beberapa peristiwa.

Pertama, ada seorang eksekutif teknologi. Terhadap uang, ia selalu hambur-hamburkan sekadar untuk pamer maupun menunjukkan eksistensinya sebagai orang kaya. Ia berusaha menunjukkan kemewahan dengan tinggal di hotel mewah. Ia sengaja memecahkan dan mengganti lampu hotel dengan harga fantastis. Saat bersama teman-teman berkumpul di tepi dermaga, ia mengajak mereka menghabiskan ratusan dolar untuk ditukar koin emas. Selanjutnya koin-koin itu dihamburkan dengan cara dilempar ke laut, berkilauan saat mengambang di permukaan air, dan itu mereka nikmati tanpa peduli sedikit pun nilainya.

Kedua, ada filantropis, investor, petugas kebersihan dan penjaga pom bensin, yang secara kasat mata finansialnya biasa saja. Namanya Ronald James Read. Ia hanya lulusan SMA, tetapi penuh kesadaran menabung semua sisa keperluan pokoknya. Ia bekerja menjadi tukang bengkel selama 25 tahun dan menjadi penyapu lantai JC Penney selama 17 tahun. Namun, di akhir hidupnya pada tahun 2014, ia menggemparkan dunia. Dari 2.813.503 orang yang meninggal di Amerika kala itu, tidak sampai 4.000 orang yang memiliki harta di atas $ 8 juta. Ronald Read adalah satunya.

Ketiga, Richard Fuscone. Ia seorang eksekutif Merril Lynch lulusan Harvard bergelar MBA. Majalah bisnis Crain’s pernah  memasukkannya ke dalam daftar 40 under 40. Ini adalah daftar 40 founders, inventors, investigators dan ahli strategi bisnis tersukses di bawah usia 40 tahun. Namun, Fuscone pernah meminjam banyak uang untuk memperluas rumah 1,600 m² di Greenwich, Connecticut, dengan 11 kamar mandi, dua lift, dua kolam, tujuh garasi. Biaya pemeliharaan bulanannya mencapi $ 90.000. Maka, saat krisis 2008 melanda, Fuscone hancur luluh bersama ambisinya. Ia memiliki utang. Aset yang tak likuid segera habis. Beberapa rumah mewahnya disita dan dilelang. Sampai akhirnya ia menyatakan bangkrut di depan hakim pada 2008.

Kalau ditanya mana di antara ketiganya yang baik? Apakah eksekutif teknologi yang suka menghamburkan uangnya? Apakah Fuscone yang dengan ilmu ekonomi dan bisnis matang bisa menjadi orang kaya raya namun ending-nya bangkrut? Apakah Read yang tanpa gelar sarjana, tanpa pelatihan, tanpa latar belakang, tanpa pengalaman formal dan koneksi, tetapi bisa mengalahkan banyak orang kaya secara finansial di akhir hidupnya?

The Psychology of Money menegaskan, hasil finansial itu ditentukan bagaimana kita memperlakukan uang. Hasil finansial itu tidak berhubungan dengan kecerdasan atau usaha bisnisnya. Lebih jauh, buku ini memberikan testimoni keberhasilan finansial itu bukan dari hard science (sekadar ilmu) melainkan dari soft skill (keahlian lunak). Dalam buku ini, soft skill itu disebut sebagai psikologi uang yang di dalamnya menjelaskan bagaimana perilaku Anda dalam memperlakukan uang ternyata lebih penting daripada bagaimana pengetahuan Anda.

Ada pola yang diajarkan dari tiga cerita di atas. Bukan hanya bagaimana memperlakukan uang tetapi bagaimana uang itu bertindak dengan caranya sendiri. Read, dengan semua perilakunya, mampu menabung dari sisa uang yang ia belanjakan untuk kebutuhan dasar. Meski bukan pekerja kantoran atau bisnisman berdasi dan berpakaian rapi, Read mampu menghargai setiap keping uang yang ia dapatkan. Ia membelanjakan uang sesuai kepentingan dan bukan sesuai keinginan. Ia memperlakukan uang dengan tepat.

Perilaku Read ini berbeda dengan perilaku eksekutif teknologi yang suka menghamburkan uang hanya untuk ketenaran semata atau perilaku Fuscone yang mampu mengumpulkan uang dengan ilmunya namun gegabah sehingga akhirnya terjerumus dalam ruang manipulasi dan emosinya tak terkendali.

Terkait perilaku keuangan ini, Dewa Eka Prayoga mengupas hal yang hampir sama. Bentuk perilaku terhadap rezeki akan berpengaruh terhadap keberadannya. Dewa menulis buku berjudul Jackpot Rezeki. Di dalam buku itu, ia menjelaskan bagaimana mendapatkan jackpot rezeki. Tidak sekedar mencari, tetapi bagaimana menemukan rezeki yang memiliki bonus melimpah.

Menurut Dewa, rejeki itu tidak tunggal melainkan bisa melakukan lipatan dalam wujudnya. Bukan berarti harus mengikuti Multi Level Marketing (MLM), malainkan kita bisa meniru pola dari prosesnya. Kelipatan itu bukan hanya bermaksud dari 100.000 kemudian menjadi 1.000.000. Bukan. Sejatinya, ada rezeki yang kita dapatkan berbonus berkah, kesehatan, ketentraman, bahkan penuh kejutan. Itu makna bahwa rezeki berpola dan tidak hanya tunggal.

Semua langkah yang kita perbuat akan direspon oleh rezeki sesuai keoptimalannya. Cara-cara itu ia tulis dengan rapi di buku Jackpot Rezeki seperti halnya bagaimana konsep berhijrah dengan totalitas dan kesadaran diri. Hijrah akan bisa mengubah diri dari yang buruk menjadi baik, yang biasa menjadi luar biasa. Ada hijrah secara fisik, seperti Rasullullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah atau hijrah dari tempat yang membahayakan menuju ke tempat yang aman. Ada juga hijrah dengan hati menuju Allah. Ini meninggalkan segala hal buruk negatif, maksiat, dosa atau kondisi yang tidak kondusif, menuju keadaan yang lebih baik dan positif untuk menegakkan ajaran agama. Inilah hijrah hakiki dan merupakan pondasi semua amalan terkait hijrah. Belum lagi bagaimana iman tebal akan mempengaruhi energi positif diri, taat maksimal akan membuka semua yang tertutup menjadi terbuka, sikap tawakal, silaturahmi personal, sedekah brutal dan dakwah optimal. Itu beberapa cara untuk mendatangkan jackpot rezeki penuh kelimpahan dan semua bonusnya, menurut Dewa.

Dari dua buku tersebut, setiap hal ternyata ada polanya. Bila kita mengerti polanya, hal tersebut bukan hanya bisa kita dapatkan melainkan juga bisa mendatangi kita. Termasuk hal rezeki dalam bentuk fisik, seperti uang. Uang tidak sekadar benda, melainkan memiliki sisi pikologi bagaimana ia harus diperlakukan. Cara yang salah dalam memperlakukan uang, semisal korupsi, mencuri, tamak, riak dan cara yang tidak benarkan lainnya, tentu berpengaruh terhadap keberadaan uang. Menghabiskan uang dengan cara membabi buta, hingga tidak sempat memiliki tabungan, tentu berpengaruh terhadap masa depan.

Sekali lagi, semua itu terkait perilaku. Mengelola uang dengan baik itu tidak ada hubunganya dengan kecerdasan tetapi lebih banyak berhubunngan dengan perilaku. Perilaku itu tidak mudah diajarkan, meski kepada orang-orang cerdas. Hal ini karena mengelola keuangan itu caranya tidak seperti rumus fisika (dengan aturan dan hukum pasti), dan tidak cukup seperti psikologi (dengan emosi dan nuansa), melainkan lebih pada bagaimana cara kita bersikap dan memperlakukannya.

  • Penulis kelahiran Kabupaten Malang dan sekarang tinggal di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Berbagi Manfaat Positif (BMP)

Facebook Comments

Comments are closed.