100 Tahun Gontor, Seminar Hadirkan Bachtiar Nasir

mepnews.id – Al-Ustadz H Bachtiar Nasir Lc MM hadir di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 2 mengisi Seminar Santri Nasional sebagai bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor. Seminar diikuti para ketua lembaga PMDG, guru-guru Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dari seluruh kampus PMDG, mahasiswa Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, serta peserta dari sejumlah perguruan tinggi lainnya.

Dikabarkan situs resmi gontor.ac.id edisi 21 Desember 2025, acara dibuka Ketua Umum Peringatan 100 Tahun Gontor, Al-Ustadz Assoc Prof Dr Khoirul Umam MEc. Dalam sambutannya, ia menjelaskan makna istilah ‘peringatan’ alih-alih ‘perayaan’ dalam menyambut satu abad Gontor. Menurutnya, pilihan istilah tersebut merupakan arahan Pimpinan PMDG agar peristiwa bersejarah ini dimaknai sebagai momentum syukur dan muhasabah, bukan euforia semata.

“Peringatan mengajak kita untuk bersyukur agar tidak kufur, dan bermuhasabah; apa yang telah dilakukan generasi awal, apa yang kita lakukan hari ini di usia 100 tahun, serta ke mana arah perjuangan Gontor di abad kedua nanti,” ujar Dr Khoirul Umam.

Dalam sesi utama, Al-Ustadz H Bachtiar Nasir menegaskan kekuatan utama yang menjaga keberlangsungan PMDG hingga mencapai usia satu abad adalah iman yang kokoh, keikhlasan, serta keterikatan yang kuat dengan Al-Qur’an. Tanpa iman, umat Islam mudah dilemahkan oleh berbagai agenda negatif dari luar maupun dari dalam.

Da’i nasional alumni PMDG ini menambahkan, keberhasilan Gontor melintasi seratus tahun bukan semata hasil ikhtiar manusia melainkan buah dari pertolongan dan karunia Allah SWT yang terus dijaga melalui nilai-nilai dasar pondok.

Ustadz Bachtiar juga menyoroti relevansi Panca Jiwa sebagai cetak biru kepemimpinan santri di era digital. Keikhlasan menjadi fondasi agar aktivitas di ruang digital tidak terjebak pada pencarian popularitas dan keuntungan material. Kesederhanaan berfungsi sebagai penangkal budaya hedonisme dan pamer di media sosial. Kemandirian menjadi syarat penting dalam membangun kedaulatan, termasuk kedaulatan digital. “Kebebasan berpikir dan berinovasi harus tetap dibingkai etika dan nilai Islam. Semua itu diperkuat oleh ukhuwah dan semangat kebangsaan, agar santri hadir sebagai perekat umat dan bangsa,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Ustadz Bachtiar menegaskan bahwa nasionalisme santri berakar dari iman. Santri Gontor dididik untuk mencintai bangsa dan negara secara tulus, siap berkorban demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta memiliki integritas moral dalam menghadapi kekuasaan.

Seminar Santri Nasional ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cenderamata sebagai bentuk apresiasi atas pemaparan yang dinilai inspiratif dan relevan dalam menjawab tantangan dakwah serta kepemimpinan santri di era digital. (Halimul)

Facebook Comments

Comments are closed.