mepnews.id – Senyum kecil di layar ponsel kini jadi “bahasa baru” bagi siswa SDN 3 Krisak, Selogiri, Wonogiri. Bukan sekadar coretan digital, emoji itu adalah bagian dari inovasi pendidikan bernama EKSIS (Emoji Kepuasan Siswa), aplikasi buatan sekolah untuk mendengar langsung suara hati peserta didik.
Gagasan ini lahir dari tangan Kepala SDN 3 Krisak, Ekwan Nugroho. Ia menilai pendidikan harus berani bergerak mengikuti arus digital. “Siswa berhak menyampaikan perasaannya. Dengan emoji sederhana, guru tahu apakah mereka puas atau tidak dengan pembelajaran,” ujarnya.
Selama ini, evaluasi pembelajaran hanya lewat angket atau wawancara yang kaku dan memakan waktu. Dengan EKSIS, siswa cukup klik emoji senyum atau sedih seusai belajar. Data otomatis tersimpan di server sekolah, lalu ditampilkan dalam dashboard grafik kepuasan siswa. Guru bisa segera menyesuaikan metode, sementara kepala sekolah memperoleh basis data untuk mengambil keputusan strategis.
Uniknya, aplikasi ini nyaris tanpa biaya. Berbekal Google Workspace for Education dan akun belajar.id, EKSIS menjadi contoh nyata bahwa inovasi tidak harus mahal. “Yang penting ada kemauan untuk mencoba,” tegas Ekwan.
Lebih dari sekadar aplikasi, EKSIS mengubah budaya sekolah. Siswa merasa pendapatnya dihargai, guru mendapat umpan balik cepat, dan sekolah makin adaptif terhadap perubahan zaman.
“Dengan emoji, belajar terasa lebih menyenangkan. Anak-anak jadi lebih berani mengungkapkan pendapat,” kata salah seorang guru.
Ekwan menegaskan EKSIS adalah langkah awal menuju sekolah digital yang lebih luas. SDN 3 Krisak berharap inovasi ini bisa terus dikembangkan, bahkan dibagikan ke sekolah lain sebagai praktik baik.
“Inovasi adalah cara kami memberi yang terbaik untuk anak-anak. Kalau mereka bahagia belajar, itulah tujuan pendidikan sejati,” pungkasnya.


