Semiotika Brave Pink-Hero Green

mepnews.idGerakan menyuarakan suara rakyat bukan hanya terjadi di depan DPR atau di jalanan, tapi juga di media sosial. Di jagad maya, bermunculan Gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat serta warna-warna untuk mewakili solidaritas masyarakat, termasuk Brave Pink dan Hero Green. Banyak pengguna media sosial mengganti profile picture dengan nuansa pink dan hijau beberapa hari terakhir. 

Prof Diah Ariani Arimbi, pakar Unair.

Warna bukan cuma untuk penyampaian aspirasi, bukan sekadar penanda visual, tetapi sarat makna. Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sekaligus pakar Kajian Budaya dan Gender Universitas Airlangga, menegaskan warna adalah teks yang selalu berbicara dalam konteks.

Prof Diah menuturkan, pink pada awalnya dilekatkan pada konsep ‘pink job’ yakni pekerjaan yang tradisionalnya dianggap feminim. Antara lain guru, perawat, sekretaris, atau pekerja sosial. “Pekerjaan ini kerap mendapatkan pandangan kurang strategis daripada posisi pengambil keputusan yang didominasi laki-laki,” tuturnya.

Namun, dalam perkembangan aksi sosial terkini, makna pink bergeser. Brave pink lahir dari apropriasi. Warna yang dulu dikonstruksi sebagai kekuatan lemah kini tampil sebagai simbol keberanian. Terutama lewat kehadiran ibu-ibu dalam demonstrasi. Pink tidak lagi sekadar feminin, tetapi resisten dan politis.

Bagaimana dengan hijau? Berbeda dengan pink yang banyak diasosiasikan berasal dari Barat, warna hijau memiliki akar lokal.

“Dalam folklor Jawa, hijau erat hubungannya dengan kesuburan, kekuatan. Bahkan, khazanah Guides of the South Sea menyebutkan warna hijau menandakan kekuasaan spiritual seperti figur Nyi Roro Kidul. Kemudian, dalam perkembangan di Indonesia belakangan ini, warna hijau diasosiasikan menjadi hero green,” ujarnya.

Kehadiran para driver ojek online berseragam hijau dalam demonstrasi, serta tragedi seorang pengemudi yang terlindas kendaraan taktis, memperkuat hijau sebagai simbol solidaritas rakyat kecil dan keberanian kolektif. “Hijau kini bukan hanya alam, tetapi heroisme dan penyelamatan,” imbuh Prof Diah.

Menurut Prof Diah, masyarakat kini hidup dalam era visual. Warna bekerja lebih cepat dan universal daripada simbol lain. Fenomena ‘Add Yours’ Instagram bernuansa brave pink dan hero green dengan 17+8 tuntutan memperlihatkan bagaimana generasi digital native memanfaatkan ruang daring sebagai arena politik alternatif. Hal ini merefleksikan lahirnya praktik baru demokrasi digital.

Dalam sejarah penyampaian aspirasi, warna bukan hal baru. Gerakan #IndonesiaGelap pernah memakai resistance blue. Bahkan, bendera One Piece dipakai sebagai simbol populer. “Pola ini menegaskan bahwa setiap movement membutuhkan representasi visual yang mudah dikenali dan menggerakkan massa,” kata Prof Diah.

Namun, efektivitas simbol utamanya warna dalam memengaruhi opini publik dan legitimasi pemerintah sangat bergantung pada daya tahannya. “Jika publik terus merawat makna ini, ia bisa menjadi simbol abadi. Jika tidak, ia cepat tergantikan,” ucapnya.

Dari perspektif sosial-humaniora, brave pink dan hero green menunjukkan bahwa makna budaya selalu dinamis. Warna yang dulu melekat pada kelemahan, kini menjadi bahasa politik resistensi.

“Apropriasi ini mengingatkan kita bahwa arti simbol-simbol visual tidak pernah statis. Mereka lahir, berubah, dan berfungsi sesuai konteks yang melingkupinya. Secara semiotik warna tidak hanya sekedar warna, tetapi mengkomunikasikan sesuatu,” pungkasnya.(*)

 

Facebook Comments

Comments are closed.