Mengapa Foto Penting dalam Aplikasi Jodol?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id –  “Mbak, aku capek main aplikasi jodoh online. Setiap ketemu profil, ada banyak data, tapi kok rasanya nggak ada yang nyantol di hati,” Livi, curhat setengah pasrah.

“Kenapa? Bukannya di aplikasi itu banyak yang serius?” saya menggali apa masalahnya.

“Saya tahu, data-data itu penting untuk membuat keputusan. Tapi, entah ya, saya nggak merasa bisa klik. Yang bikin saya tertarik tuh justru kalau lihat foto wajah. Kalau enak dipandang, baru saya mau lanjut.”

“Hmm… berarti kamu lebih tergerak sama ekspresi dan aura orang?”

“Nah, itu dia! Takutnya saya terlalu menilai dari fisik. Kan orang bilang jangan lihat tampang duluan…”

……………

Pembaca yang budiman, apa yang diungkapkan teman saya di atas adalah hal lumrah dalam interaksi di media aplikasi jodol (jodoh online). Boleh dikata, hampir semua orang yang buka situs jodol melihat tampilan muka lebih dulu sebelum melihat data lainnya. Secara ilmiah, itu wajar. Penelitian di Jerman menunjukkan, bio data kurang penting dibanding foto profil.

Dalam penelitian itu, Witmer, Rosenbusch, dan Meral membuat sejumlah profil kencan yang realistis lalu meminta 445 relawan penelitian untuk membuat keputusan berdasarkan profil-profil itu. Indikatornya; daya tarik fisik (lewat foto profil), tinggi badan, pekerjaan, teks biografi, kecerdasan (lewat skor IQ). Hasilnya? Foto mendominasi penentuan keputusan. Bahkan, foto profil yang menarik bisa secara dramatis meningkatkan peluang profil itu untuk dipilih para relawan penelitian. Faktor-faktor lain sedikit membantu, tetapi tidak terlalu berpengaruh.

Mengapa penampilan (foto) begitu penting dalam jodol?

Dalam sejumlah survei sebelumnya, kaum pria sering mengaku menghargai daya tarik fisik, sementara wanita lebih menekankan pentingnya sifat-sifat pribadi (kecerdasan, kebaikan hati, atau stabilitas finansial). Namun, itu umumnya hanya ucapan semata. Setelah dikaji lewat pilihan-pilihan yang dibuat, gambaran di atas tidak menunjukkan kondisi aslinya. Preferensi yang dinyatakan orang-orang jarang sesuai dengan pilihan yang sebenarnya mereka cari. Apa yang mereka inginkan atau mereka hargai ternyata tidak selalu sejalan dengan apa yang sebenarnya mereka cari.

Nah, jodol memperparah kesenjangan ini. Aplikasi jodol umumnya dirancang untuk pembuatan keputusan cepat. Pengguna bisa menggeser profil pencarian ke kiri atau kanan dalam hitungan detik. Maka, dengan foto ditampilkan admin jodol terlebih dahulu dan teks seringkali disembunyikan, penampilan menjadi informasi tercepat — dan terkadang satu-satunya — yang diproses oleh pengguna sebelum ia membuat pilihan. Lebih-lebih, yang ditampilkan situs jodol banyak sekali profil dan desain geser kanan-kiri atas-bawah seperti main game. Ini membuat foto penampilan seringkali jadi jauh lebih berpengaruh daripada data lainnya.

Faktor lain adalah ‘Halo effect.’ Ketika memiliki kesan positif terhadap penampilan seseorang, secara tidak sadar kita berasumsi bahwa orang itu juga memiliki kualitas positif lain. Ketika fotonya tampak memikat, kita merasa seolah-olah orang itu juga baik, humoris, cerdas, finansial terjamin, dan lain-lain. Nah, dari faktor ini, foto bisa menciptakan jalan pintas mental instan untuk mengevaluasi seseorang, sementara membaca teks biodata butuh upaya dan waktu sehingga tidak banyak dilakukan.

Jadi, boleh saja menentukan pilihan awal lewat foto profil di aplikasi jodol. Tapi, jangan sampai di situ saja. Selidiki dulu kondisi lainnya. Jika merasa nyaman dan cocok, atur pertemuan secara offline. Jangan lupa, Tuhan sudah menyiapkan jodoh buat kita. Selalu berdoa agar didekatkan dan disegerakan.

Facebook Comments

Comments are closed.