Oleh: Budi Winarto*
mepnews.id – Dalam hidup, tentu kita sering mendapatkan hal-hal yang kita suka dan berhadapan dengan hal-hal yang membebani kita. Siklus keberagaman permasalahan dalam kehidupan selalu berjalan dengan segala kebermanfaatannya.
Terkadang, kita menganggap sesuatu itu tidak bermanfaat hanya karena kita belum membutuhkan atau tidak berdampak ke diri kita secara langsung. Di sisi lain, peran tanggap dan bisa membuat keputusan terukur dan tepat terkadang harus tertahan oleh kekurangan diri yang tidak bisa terkendali.
Dampak dari kondisi itu, kehadiran kita terasa stag. Mandeg, seperti itu-itu saja. Ketika ingin merubah perilaku, tentu tidak harus menjadikan diri kita seperti orang lain. Kita justru harus berusaha melepaskan sisi terpendam dalam diri untuk mencapai apa yang kita inginkan.
Contoh, Anda merasa tidak sanggup saat para jamaah di masjid mengharap Anda jadi imam. Padahal Anda fasih mengaji. Ada pertarungan dalam batin. Anda menolak karena hal itu bukan domain Anda. Anda berpikir ada yang lebih berhak meski Anda lah yang diminta jamaah. Nah, tentu ending-nya akan lain jika Anda memiliki kemampuan untuk mengalihkan perasaan dari beban menjadi amanah.
Sebenarnya, setiap kita memiliki kekuatan dan kemampuan yang terkadang kita sendiri tidak mengetahuinya. Kita seharusnya memiliki kostum di setiap panggung berbeda untuk bisa menampilkan eksistensi diri dalam berbagai wujud kebermanfaatan.
Masalahnya, kita sering mendapati jiwa kita terperangkap. Kita seperti terkena Impostor Syndrome, “Aah, aku tidak cukup baik.” Atau, kita masih trauma, “Dulu saya mengalami…., sehingga sekarang saya takut melakukannya lagi.” Atau, kita mendapat narasi yang salah, “Orang seperti saya pasti tidak bisa melakukan hal tersebut.” Bisa juga karena kita kurang pas menilai diri sendiri, “Aku adalah orang yang ramah, maka aku tidak harus setegas itu.”
Tentu, masalah di atas bisa membuat kita tidak bergerak maju. Maka, konteks yang bisa melemahkan potensi diri harus kita hindari. Dengan apa? Dengan menampilkan ‘sisi lain’ yang ada dalam diri kita. Dengan menampilkan alter ego kita. Buku The Alter Ego Effect karya Todd Herman bisa menjadi guide solution agar kita memiliki alter ego.
Apa itu alter ego?
Frase ‘alter ego’ pernah dikemukakan Cicero filsuf Romawi sebagai ‘diri saya yang lain’ atau ‘teman setia’.
Alter ego juga bisa disebut sebagai persona yang menggambarkan karakteristik, sifat dan perilaku seseorang atau karakter yang bisa dihadirkan dalam berbagai konteks untuk menggambarkan bagaimana seseorang itu terlihat menjadi ‘hero’ atas dirinya dan di mata orang lain.
Menemukan ‘diri saya yang lain’ itu bukan berarti berpura-pura menjadi orang lain. Yang betul adalah mengoptimalkan diri melalui kostum yang berbeda demi kebaikan dan kemaslahatan.
Mengoptimalkan alter ego berarti Anda berusaha mengungkap ‘identitas rahasia’ yang ada pada diri Anda menuju versi terbaik dalam kehidupan. Contohnya, tokoh Peter Parker dalam film Spiderman. Ia digambarkan sebagai super hero tapi orang umum tidak mengenal identitas aslinya. Sebagai Peter Parker, ia pemuda biasa dan terlihat lemah. Namun, ketika dibutuhkan, ia merubah dirinya ke versi terbaiknya. Ia berganti identitas menjadi Spiderman sebagai alter ego-nya. Kenapa bisa demikian? Karena ia ingin menunjukkan dimensi lain dari dirinya; dari biasa menjadi luar biasa. Dalam kontek ini, Peter Parker adalah manusia berkepribadian biasa yang diciptakan oleh Spidermen sebagai pemeran aslinya. Pater Parker hanya sebagai kamuflase dari kepribadian super hero yang disebut Spiderman. Hakikatnya, wujud asli dari kepribadian Peter Parker itu ya Spiderman itu sendiri.
Sama dengan kita. Wujud dhohir kita adalah manusia biasa, yang bisa dilihat dan diraba beserta identitas yang melekat. Sedangkan, alter ego yang melekat pada diri kita adalah sifat-sifat keTuhanan yang penuh kasih sayang, penyabar, memiliki integritas dan lain sebagainya, atau sifat-sifat yang tercermin dalam Asmaul Husna. Ketika kita bisa mengoptimalkan sifat keTuhanan pada situasi atau panggung yang kita butuhkan, maka kita bisa menjadi super hero atas kendali alter ego kita. Hanya saja, terkadang kita sulit memunculkan alter ego kita dari sifat keTuhanan itu karena mungkin masih tersembunyi dan belum bisa kita munculkan sebagai bentuk kesadaran.
Ada beberapa konsep agar kita bisa mengoptimalakan alter ego yang ada dalam diri. Di antaranya, kita harus mengenal konsep Field of Play (panggung hidup kita) seperti apa. Ketika mengenal setiap panggung tempat kita akan berperan, maka kita akan bisa memainkan peran alter ego dengan baik. Dengan mengenal panggung, kita bisa merancang sifat alter ego yang kita perankan nantinya. Apakah kita harus berani, pede, tegas, berwibawa atau kita harus mengalah.
Berikutnya, kita juga harus mengenal moment of impact (momen penentu). Kita harus tahu kapan tampil menjadi hero dan saat mana kita memilih diam dan menjadi orang biasa. Pengetahuan atas momen penentu itu juga menentukan kemaksimalan alter ego yang kita perankan.
Yang juga penting, kita harus mengenal the enemy (musuh dalam diri), misalnya; rasa takut, minder, males, dan lain-lain. Ketika mengenali musuh dalam diri sendiri, tentu kita akan lebih mudah mengendalikan dan memunculkan sosok pahlawan atas diri kita.
Intinya, alter ego itu diciptakan supaya kita bisa tampil maksimal di momen penting tanpa kehalang rasa ragu. Triknya, pakai imajinasi, bikin misi, bahkan punya totem (benda pemicu) buat langsung masuk mode pede yang kita inginkan.
Alter ego itu bukan topeng untuk nutupin kekurangan diri, tetapi lebih ke kostum untuk menunjukkan diri kita. Dengan alter ego yang tepat, pribadi kita akan mudah beradaptasi dengan lingkungan terbaik sesuai medan lapangan atau panggungnya. Kalau ke gunung, ya pakai jaket tebal. Kalau ke pantai, cukup pakai kaos tipis. Kalau masih grogi ke ruang presentasi, kita aktifkan alter ego percaya diri. Dengan kata lain, jika alter ego bisa kita kendalikan maka kapasitas diri kita sebagai manusia bakal lebih sempurna.
- penulis kelahiran Kabupaten Malang yang berdomisili di Kabupaten Mojokerto. Moto “Bebargi Manfaat Positi (BMP)”


