Anak-anak Memanjat Rak Buku; Simbol Literasi yang Tumbuh dari Akar

mepnews.id – Suasana hangat menyelimuti Perpustakaan Amrina Rosyada Indonesia (PARI) di Tulangan, Sidoarjo. Anak-anak antusias memanjat rak buku setinggi hampir tiga meter demi menjangkau bacaan impian mereka. Momen ini tak hanya menarik secara visual, namun juga menyimpan makna dalam tentang semangat literasi yang tumbuh alami di tengah masyarakat.

“Mendakilah yang tinggi, Nak. Lebih baik tertimpa ilmu daripada tertimpa nasib tak mujur karena kekurangan ilmu.” Pesan ini viral di kalangan pegiat literasi setelah dibagikan dalam kegiatan ‘Rujukan dan Rujakan Literasi’ yang digelar di PARI, Sidoarjo, 20 Juli 2025. Bukan hanya metafora, tetapi anak-anak benar-benar mendaki rak-rak pengetahuan dengan penuh semangat dan keberanian.

Diskusi santai ‘Rujukan dan Rujakan Literasi’ di PARI, Sidoarjo.

Kegiatan ini dihadiri tokoh-tokoh gerakan baca, seperti Ketua GPMB Jawa Timur, aktivis taman bacaan, serta Makrus Sahlan CEO JelajahSelindu.com sebagai penggerak literasi pedesaan di Jawa Timur. Namun, sorotan utama justru datang dari para pembaca cilik. Mereka tidak hanya menjadi objek gerakan ini, tetapi menjadi bukti bahwa literasi hidup, tumbuh, dan menggeliat dari bawah, dari desa, dari rumah, dari kaki-kaki kecil yang memanjat rak buku.

Wibowo Purnomohadi, pustakawan Surabaya pendiri Yayasan PARI, menegaskan, “Di PARI, kami tak hanya menata buku, tapi juga menata harapan. Anak-anak yang memanjat rak buku bukan sekadar mencari bacaan, tapi tengah menapaki tangga perubahan hidup.”

Kegiatan ini bukan seremoni, melainkan manifestasi hidup dari literasi yang dibumikan. Sebuah tren yang kian menguat: literasi akar rumput yang berdikari, yang tak menunggu dana, tapi bergerak karena cinta dan keyakinan bahwa buku bisa mengubah nasib.

Facebook Comments

Comments are closed.