Oleh: Budi Winarto*
mepnews.id – Kebahagiaan adalah dambaan bagi diri yang tenang. Bagi insan yang diliputi kegelisahan, ketakutan dan terancam, tentu kebahagiaan dan rasa tenang semakin dirindukan. Tidak bisa berdamai dengan diri sendiri bisa menimbulkan ketidakbahagiaan. Pun dengan ketakutan karena kebutuhan hidup, merasa terancam dengan berbagai masalah, itu juga bisa menimbulkan ketidakbahagiaan. Tentu semua adalah tantangan yang harus kita selesaikan. Apabila tidak, pikiran kita akan dihinggapi kecemasan yang menjauhkan diri dari perasaan bahagia. Maka dari itu kita harus bisa berdamai dengan semua. Hanya dengan berdamai, semua bisa terkendali, dan kita pun akan bahagia.
Secara umum, banyak orang berkata kebahagiaan akan tampak nyata ketika seseorang terpenuhi unsur materinya. Unsur materi itu terdiri dari pencapaian atas sesuatu yang bersifat fisik, seperti uang, barang atau status sosial. Namun demikian, kebahagiaan yang diperoleh dari unsur materi biasanya fana karena tidak kekal dan suatu saat bisa meninggalkan. Kekayaan bisa habis atau lenyap, jabatan ada batasnya, tampilan fisik sempurna juga tidak selamanya karena bisa berubah. Masalahnya, demi eksistensi status sosial, ada orang yang menghalalkan segala cara, yang sampai menggadaikan harga diri, sampai-sampai melunturkan nilai dari perintah dan larangan agama.
Mengejar kebahagian secara materi itu boleh-boleh saja, tetapi jangan sampai merusak akidah. Semakin orang mengejar bahagia dengan menghalalkan segala cara, sesungguhnya semakin jauh ia dari bahagia. Karena bahagia yang sesungguhnya itu ketika seseorang bisa mengusai diri dengan cara membangun kesejahteraan batin.
Berapa banyak orang yang memiliki fasilitas mewah, serba ada, tetapi tidak bisa menikmati karena sakit fisik atau batinnya. Berapa banyak orang yang menumpuk harta dengan menghalalkan segala cara, tetapi endingnya tinggal di jeruji besi. Berapa banyak orang yang menghabiskan waktu bekerja dan melalaikan ibadah, ujungnya kehidupan mereka biasa-biasa saja. Kalaupun mereka mendapatkan usur materi secara berlebih, namun dengan cara tidak benar, bisa saja itu bentuk isti’drat.
Isti’drat adalah cara Allah memberikan fasilitas, berupa harta, benda atau jabatan, bagi orang yang lalai. Ujungnya itu justru menjadikan mereka semakin jauh dari Allah. Mereka mamang terlihat bahagia karena terpenuhinya unsur materi, tetapi kebutuhan jiwanya tidak terpenuhi. Jiwa mereka gersang karena semakin tenggelam dan ditenggelamkan oleh cara-cara maksiat mereka sendiri. Ini tentu sangat berbahaya.
Latas bagaimana agar seseorang merasakan bahagia yang sesungguhnya?
Karena kebahagiaan berasal dari diri, maka rasa bahagia juga bisa kita hadirkan melalui unsur immateri. Kebahagiaan immateri adalah bentuk non fisik yang bisa menghadirkan kebahagiaan secara kekal dan bukan yang fana atau sesaat. Kesejahteraan batin adalah kuncinya. Caranya, ketika seseorang bisa menyelaraskan kehidupan dengan konsep spiritualitas, maka ia akan menjadi muslim yang taat. Ia akan bisa memperkuat hubungan antara jasad serta ruh dengan penciptanya, hati nurani dan nafsu dengan kebutuhan subtansinya, serta bertindak bagaimana seharusnya manusia berprilaku yang baik karena kesadarannya. Dengan kesadaran melalui spiritualitas yang baik, maka manusia akan selalu berintropeksi untuk memahami sebenarnya dirinya diciptakan dari apa dan tujuannya ke mana.
Dengan memiliki spiritualitas yang baik, berbagai masalah dalam kehidupan pun akan bisa terurai. Sejak mata terbuka hingga terpejam, ada saja masalah yang harus dihadapi manusia. Tetapi, seorang muslim diwajibkan untuk yakin. Melewati semua itu memang tidak mudah, butuh kesabaran, dan kesadaran yang ekstra. Namun, ketika seseorang sadar bahwa Allah selalu bersamanya, Allah tidak pernah meninggalkannya, Allah akan menentukan yang terbaik untuknya, Allah yang membimbingnya menuju kesuksesan dan kebahagiaan, maka ia akan berjalan di bumi Allah dengan perasaan batin tentram. Hal ini disebabkan karena ia meyakini bahwa pencipta alam semesta ini selalu bersamanya.
Siapa yang mampu melawan, sementara ia bersama yang Maha Kuat? Seorang mukmin sejati tidak akan merasa gelisah, karena ia yakin: tidak akan kelaparan saat ia bersama yang Maha Kaya. Ia juga memiliki keyakinan, tidak mungkin hina saat ia bersama yang Maha Mulia. Kekuatan hati semacam ini pasti akan membawa seseorang untuk hidup dalam puncak kebahagiaan.
Dalam satu ayat, Allah SWT berfirman, yang artinya,”Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Melihat apa yang kamu kerjakan (Qs. Al Hadid:4)
Dari arti ayat di atas jelas bahwa kebahagiaan mutlak adalah saat manusia yakin bahwa Allah bersamanya. Di sisi lain, ketika ia hendak melanggar ketentuan Allah dan tergoda rayuan setan, ia akan selamat karena ia yakin bahwa Allah selalu bersamanya, tidak akan mungkin ia melanggar apa yang dilarang saat di hadapan-Nya.
Menghidupkan kesadaran bahwa Allah bersama kita, Allah melihat kita, Allah tidak pernah meninggalkan kita, itu penting. Dengan keyakinan itu, kita akan terjaga. Di situ lah letak membangun kesejahteraan batin untuk mencapi bahagia yang sesungguhnya.
Kebahagiaan adalah pilihan yang harus kita putuskan dari awal. Apakah kita ingin bahagia saat semua unsur materi tercukupi, meskipun itu fana? Itu mungkin, tetapi akan sulit tercapai selama kita tidak bisa mengalahkan hawa nafsu karena keinginan itu sifatnya tak terbatas. Apakah kita perkuat unsur immateri (spiritualitas dan hidup lebih bermanfaat) agar kita mendapatkan bahagia yang kekal? Itu sangat bisa, karena semua akan dicukupkan dengan kesyukuran.
Pada intinya, orang yang melibatkan Allah dalam setiap urusan dan aktifitasnya, sesungguuhnya ia telah mampu membangun kesejahteraan batin untuk menyambut kebahagiaan hakiki. Kenapa demikian? Karena spiritualitas yang kuat akan membantu meningkatkan keseimbangan batin, memahami makna tujuan hidup, serta kehidupan yang terbimbing oleh kesadaran diri. Apabila semua tercapai, ia sesungguhnya telah berada di puncak dari keinginanya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
- Penulis kelahiran Kabupaten Malang yang sekarang tinggal di Kabupaten Mojokerto.


