mepnews.id – Fenomena silent quitting (atau quiet quitting) dalam dunia kerja di Indonesia sudah terasa sejak pandemi COVID-19 dan semakin relevan di era kerja hybrid atau remote belakangan ini. Karyawan tidak benar-benar resign dari tempat kerja, tetapi juga tidak menunjukkan keterlibatan atau komitmen lebih dari pekerjaan pokoknya. Mereka hanya melakukan tugas minimum sebagaimana tertulis dalam deskripsi pekerjaan — tidak mau lebih, tidak ambil inisiatif, dan tidak antusias.

Dr Fajrianthi psikolog Unair
Dr Fajrianthi M Psi Psikolog, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, menjelaskan silent quitting adalah reaksi terhadap berbagai stressor (penimbul tekanan) di tempat kerja. Misalnya saja; ketidakpuasan kerja, ketidakseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, burnout, hingga kepemimpinan yang buruk.
“Fenomena ini muncul ketika karyawan merasa tidak mendapat dukungan, merasa kehilangan keterhubungan dengan organisasi, atau berada dalam lingkungan kerja bertekanan tinggi,” ia menjelaskan.
Melalui perspektif psikologi, silent quitting dapat dipahami melalui engagement theory. Kurangnya keterlibatan emosional dapat mendorong perilaku pasif termasuk silent quitting. Karyawan yang kehilangan keterhubungan emosional, namun bertahan karena alasan eksternal seperti ekonomi, cenderung mengambil sikap tersebut.
ditilik dari Model Job Demands-Resources (JD-R), ketidakseimbangan antara tuntutan kerja yang tinggi dan sumber daya yang terbatas dapat juga memicu kelelahan sehingga karyawan menarik diri.
Fajrianti lalu mengidentifikasi beberapa faktor psikologis yang dapat menyebabkan silent quitting. antara lain burnout akibat stres kerja berkepanjangan, ketidakpuasan kerja karena kurang pengakuan, kurangnya dukungan organisasi, serta budaya organisasi yang toksik.
Berdasarkan beberapa jurnal penelitian, fenomena silent quitting banyak ditemukan pada generasi milenial dan Gen Z. Mereka ini cenderung mengutamakan keseimbangan hidup kerja dan mencari makna dalam pekerjaan. “Maka, ketika harapan ini tidak terpenuhi, mereka cenderung menarik diri dari pekerjaan,” terangnya
Terus, bagaimana solusinya?
Fenomena silent quitting berkelanjutan tentu memberi dampak negatif bagi kesehatan mental individu. Maka, Fajrianthi menyoroti budaya organisasi tempat bekerja sebagai salah satu penentu solusi.
Budaya organisasi kerja yang positif dengan komunikasi terbuka dan ada dukungan nyata terhadap kesejahteraan karyawan dapat meningkatkan keterlibatan mereka sehingga mengurangi silent quitting.
“Sebaliknya, budaya negatif, yang dicirikan oleh hierarki kaku, kurangnya transparansi, dan kompetisi internal, dapat menjauhkan karyawan dari jagad pekerjaan. Ini bisa memicu ketidakpedulian yang pada akhirnya memperparah silent quitting,” lanjut Fajrianthi.
Lalu, ia merekomendasikan beberapa pendekatan yang dapat membantu memulihkan motivasi dan keterlibatan kerja karyawan. Antara lain, meningkatkan dukungan organisasi pada karyawan, mengembangkan kepemimpinan yang baik, memperbaiki komunikasi atasa-bawahan, serta memberikan otonomi dan fleksibilitas kerja kepada karyawan.


