Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Saat menginginkan hasil optimal dari pekerjaan yang kita ikhtiarkan, maka kita harus memiliki etos kerja. Dan, etos itu bukan hanya “kerja… kerja dan bekerja.”
Kata ‘etos‘ berasal dari bahasa Yunani yang berarti karakter. Jadi, etos dalam bekerja bisa dimaknai sebuah sikap dan watak seseorang ketika menyikapi pekerjaan yang diemban, membersamai prosesnya dengan baik untuk kemudian mencapai keidealan dari apa yang menjadi tujuan.
Etos kerja sesungguhnya sudah diajarkan dalam agama. Dalam pespektif Islam, etos kerja memiliki makna semangat kerja yang dilandaskan pada prinsip-prinsip iman dan bertujuan meraih ridha Tuhan. Makna ini bisa menjadi hujjah diri yang bisa menggerakkan orientasi ke jalur yang benar dalam menata niat sebelum melakukan aktifitas. Niat yang benar akan membentuk karakter diri untuk menggerakkan semangat dan menguatkan integritas dalam menjalankan amanah yang diemban.
Sebagaimana setiap pekerjaan harus memiliki target, maka tindakan yang mengiringi tidak hanya cukup mendapatkan apa yang ditargetkan. Lebih dari itu. Yakni, menjadikan setiap aktivitas adalah bagian sunatullah dan berharap setiap dari geraknya meimbulkan Rahmat atasnya. Maka, itu akan lebih bisa menjadi penguat diri.
Ketika sunatullah menjadi dasar pijak, maka pada setiap yang ia kerjakan tidak akan ada rasa keluh, apa lagi putus asa yang pada ujungnya akan mengurangi kesyukuran atas segala nikmat serta karunia yang lebih besar daripada sekedar apa yang ditujunya.
Dalam kenyataannya, tentu akan sangat berbeda antara pribadi yang memiliki etos kerja baik dengan yang etos kerja rendah. Seseorang dengan etos kerja rendah akan secara tidak langsung menyia-nyiakan tugas yang telah diamanahkan Allah Swt kepadanya. Sebaliknya, orang dengan etos kerja baik akan dengan sendirinya dipicu untuk melakukan pekerjaan terbaik. Hal ini karena kesadarannya menuntun dirinya untuk menjadikan setiap pekerjaan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian untuk mendapatkan Ridho Allah Swt. Endingnya, mereka akan semakin memiliki pola dan kepercayaan untuk melakukan apa pun dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab.
Pribadi yang memiliki etos kerja baik dapat dilihat dari bagaimana ketika melakukan pekerjaan atau dalam beraktivitas. Mereka yang memiliki etos kerja baik dengan sendirinya akan bekerja keras. Kerja keras ini simbol bahwa mereka tidak ingin menyia-nyiakan peluang yang didapatkan. Hal ini dilakukan karena kesadaran diri akan kesempatan yang tidak lah datang dua kali. Pun dengan kesadaran bahwa waktu yang mereka miliki segera berlalu dan tak mungkin kembali persis seperti awal mula datang.
Tidak cukup kerja keras, pribadi yang memiliki etos kerja baik juga memikirkan kerja cerdas. Kerja cerdas diperlukan agar dalam bekerja bukan hanya sekedar kerja.. kerja…kerja, melainkan gerak dan langkahnya diperhitungkan secara matang dandicari kemungkinan terkecil kegagalannya. Ini agar setiap proses yang dikerjakan seiring dengan akurasi keberhasilan. Kerja cerdas itu identik dengan keahlian, penguasaan ilmu, dan berciri cerdas yakni menyelesaikan pekerjaan secara efisien, ekonomis dengan prinsip ‘bekerja ringan berpenghasilan besar.’
Selain kerja keras dan kerja cerdas, pribadi yang memiliki etos kerja baik akan mengerjakan sesuatu dengan tuntas, tidak sepenggal, atau ditinggal. Kerja tuntas itu bermakna mulai dari hulu sampai hilir dituntaskan secara presisi dengan tingkat akurasi tinggi. Tidak ada jeda untuk menyerah dan tidak ada waktu terbuang sia-sia.
Kerja tuntas yang diawali perencanaan, ditindaklanjuti dengan perbuatan, dan evaluasi sebagai alat ukur keberhasilan serta mengenali hambatan, semua itu adalah proses untuk mencapai tujuan. Kerja tuntas bisa diibaratkan sebagai bentuk menjaga keistiqomahan. Kalau tidak istiqomah, kita bisa gagal karena bekerja tidak sampai tuntas, hanya sepenggal, sepotong, dan tidak utuh, biasanya karena kejenuhan atau keputusasaan.
Terakhir, orang yang memiliki etos kerja baik akan menjadikan kerjanya penuh ikhlas. Kerja ikhlas yang dimaskud adalah pekerjaan yang sudah dilakukan dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas, selanjutnya dirinya membangun kesadaran bahwa hasil itu bukan wilayahnya, namun Tuhanlah yang menentukan untuk kebaikannya. Jadi, jangan dibolak balik.
Meskipun hasil bukanlah wilayahnya, tetapi etos dalam bekerja yang dimiliki seseorang akan menjadikannya pribadi sadar bahwa proses yang dikerjakan adalah salah satu sarana untuk memperbesar peluang sesuai apa yang diinginkan. Sarananya bisa melalui kerja keras, kerja cerdas dan kerja tutas sebagai pilihan untuk membersamai keberhasilan. Utamanya untuk mendapatkan ridho dan rahmat Tuhan sebagai bentuk keikhlasan.
Dengan begitu, orang yang memiliki etos kerja baik tidak akan memiliki pamrih. Dilihat atau tidak ada yang lihat, diawasi atau tidak ada yang mengawai, mereka tetap konsisten dengan karakter terbaiknya.
Oleh karenanya, etos kerja yang dimiliki seseorang akan bisa menjadi barometer atas dirinya dan pekerjaan yang dilakukan. Out put-nya adalah bagaimana setiap tindakan yang dilakukan bisa menimbulkan efek kebaikan dan kebermanfaatan serta kemaslahatan bersama.
Wallahu’alam bishawabi


