UM Hadirkan Bengkel Otomotif Mobil Listrik

mepnews.id – Universitas Negeri Malang (UM), dengan status PTN-BH, telah mendirikan bengkel otomotif sejak awal tahun 2024.

Dr Muchammad Harly ST MT, dosen D4 Teknologi Rekayasa Otomotif Fakultas Vokasi UM, ini menjelaskan, “Bengkel otomotif UM ini teaching factory. Semua kegiatan penelitian yang dapat menghasilkan produk bisa dilakukan disini. Sayangnya, tidak semua fakultas memilikinya. Oleh karena itu, Direktorat Inovasi ini menjadi pusat dari seluruh teaching factory UM.”

Dikabarkan situs resmi um.ac.id 8 Agustus 2024, bengkel otomotif UM memproduksi mobil listrik dan battery charger yang tersedia di beberapa rest area. Battery charger memiliki kapasitas daya 220 kW, lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang umumnya tersedia. Produk battery charger UM ini setara pengisian untuk bus listrik dan laris di pasaran. Beberapa perusahaan turut membelinya.

“Pengadaan battery charger belum merata di Indonesia. Pengguna mobil listrik khawatir mogok di tengah perjalan,” kata Harly.

Mobil yang dikembangkan UM menggunakan sistem hybrid electric vehicle. Inovasi ini muncul dari kekhawatiran pengguna kendaraan listrik akan kehabisan energi di tengah perjalanan. UM memproduksi mobil listrik yang juga memiliki tanki bensin untuk mengatasi masalah ini. Mobil listrik tetap punya mesin bensin yang menggerakkan generator otomatis ketika daya listrik habis.

“Jadi, tidak perlu khawatir mogok. Mobil bisa tetap berjalan tanpa harus mencari battery charger,” jelas Dr. Harly.

Bengkel otomotif UM juga dilengkapi berbagai perangkat lunak untuk desain awal, perancangan elektronik, dan pembuatan prototype. Berbagai mesin pendukung dan perlengkapan keselamatan kerja tersedia di bengkel ini, termasuk instalasi angin, air, dan listrik.

Teaching factory ini dikelola berbagai fakultas di UM. Mahasiswa turut dilibatkan langsung dan diberikan pengalaman seperti bekerja di industri,” tuturnya.

“Harapan saya, seluruh hasil produksi UM diminati dan laris di pasaran. Kami bertekad selalu meningkatkan kualitas produk dan mendapatkan standar uji layak. Semoga prinsip local design, local material, local process, dengan international quality bisa diterapkan,” ucap Dr. Harly.

Facebook Comments

Comments are closed.