ITS Bangun REIDI Proyek Living Laboratory Terbesar di Indonesia

mepnews.id – Menindaklanjuti program INSPIRASI (Indonesia – Nanyang Technological University Singapore Institute of Research for Sustainability and Innovation), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memulai pembangunan proyek Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI).

Proyek REIDI merupakan salah satu bagian dari program besar INSPIRASI hasil kerja sama antara ITS dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan beberapa universitas lain di Indonesia dalam pembangunan living laboratory for renewable energy.

Desain area living laboratory Agrivoltaic pada area proyek REIDI di kampus ITS.

Pembangunan laboratorium demonstrator pertama di Indonesia itu telah diresmikan akhir Desember 2023. Pembangunan proyek di area kampus ITS ini telah ditinjau delegasi dari NTU.

Ary Bachtiar KP ST MT PhD, koordinator pembangunan Proyek REIDI, mengungkapkan ITS ditunjuk sebagai penanggung jawab atas pembangunan proyek ini. Ini karena kesepakatan terkait penggunaan lahan ITS sebagai tempat pembangunan living laboratory.

Desain bangunan pembangkit listrik energi terbarukan hydrogen fuel cell berkapasitas 10kv di REIDI.

“Alhamdulillah, ITS dipercaya menyediakan lahan dan mengelola proyek ini ke depannya,” ungkapnya.

Pembangunan proyek seluas 1,5 hektare ini terbagi menjadi tiga tahap hingga tahun 2027. Tahap pertama, pembangunan area pembangkit energi terbarukan bersumber pada photovoltaic (PV), agrovoltaic, dan biomassa yang direncanakan rampung akhir tahun 2024.

Tahap berikutnya, dimulai fase peninjauan desain, pembangunan, serta penerapan dan penggunaan dari masing-masing komponennya.

Tahap ketiga, progres REIDI difokuskan pada pembangunan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bersumber hidrogen dan sistem Grid Management Solution. Di akhir tahap ini dilakukan uji penerimaan situs dan fungsionalisasi keseluruhan REIDI.

“Harapannya, pembangunan dari setiap fase bisa segera selesai sehingga dapat digunakan secepatnya,” ujar Ary.

Dosen Departemen Teknik Mesin ITS ini menyampaikan, REIDI ke depan diharapkan dapat menyediakan operasional kelistrikan intra kampus dan sebagai fasilitas untuk eksperimen, pengujian hingga menjadi rujukan training bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang renewable energy.

“Targetnya nanti bisa sampai memasuki ranah industri dan memberi dampak kepada masyarakat,” kata Ary.

Dalam pengelolaan proyek senilai Rp 72,7 miliar ini, ITS berkolaborasi dengan PT Pembangkit Listrik Negara (PLN). Kolaborasi ini untuk membantu proses hilirisasi produk hasil REIDI yang diharapkan mampu memasok sebagian atau sepenuhnya sumber listrik bagi ITS.

Tentang pembangunan proyek yang juga mendapat dana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI ini, Ary berharap proyek ini selesai tepat waktu. “Selebihnya, saya berharap living laboratory ini dapat dimanfaatkan terus hingga berkelanjutan,” tuturnya. (Mifda Khoirotul Azma)

Facebook Comments

Comments are closed.