Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Sebagai makhluk, manusia adalah ciptaan sempurna dari yang sempurna (ahsani taqwim) atas makhluk lainnya. Oleh karena kesempurnaan itulah manusia diberikan pembeda, dan dibekalinya berbagai kecerdasan. Kecerdasan diberikan kepada manusia agar mengenal dirinya, lingkungan dan alam semesta.
Meskipun begitu, ada sebagian manusia yang mungkin tidak menyadari bahwa setiap perubahan atas dirinya sesungguhnya digerakkan oleh kecerdasannya.
Kepekaan panca indera
Sebagai penghantar, kita akan mulai dengan peristiwa sejak manusia dilahirkan. Saat bayi, agar bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya, bayi memerlukan kecerdasan agar bisa menyesuaikan dengan alam di luar kandungan.
Bayi tidak akan bisa menyesuaikan dirinya apabila tidak memiliki kecerdasan meskipun naluri menuntunnya. Naluri diberikan Tuhan agar manusia memiliki respek kuat dalam beradaptasi. Namun, ketika naluri dengan insting panca indranya tidak dibarengi dengan kecerdasan fisik (physical intelligence), maka akan berdampak pada keterlambatan dalam segi apa pun. Terlambat berbicara, terlambat berjalan, terlambat mengenal lingkungan, dan lain-lain.
Panca indera yang meliputi mata sebagai indra penglihatan, telinga sebagai indera pendengaran, kulit sebagi indera peraba, hidung sebagai indera pencium dan lidah sebagai indera pengecap, adalah karunia. Tanpa sadar mereka telah menjadi sarana untuk mengoptimalkan kecerdasan fisik bagi manusia untuk mengarungi kehidupan. Dengan panca indera dan kecerdasan fisik, bayi berlatih gerak (merangkak, berjalan dan berlari), mengenal berbagai macam rasa, mengetahui benda-benda yang ada di sekitar. Bahkan sebagai perantara otak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Panca indera yang melekat pada diri manusia bisa menjadi fasilitator dalam mengoptimalkan kecerdasan. Kepekaan dari masing-masing panca indra bisa merangsang otak dalam pengoptimalan kecerdasan emosional dalam beradaptasi mengenal lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Selanjutnya dia juga bisa mengasah kecerdasan intelektual untuk mengenal alam semesta beserta isinya, sekaligus mengeksplore segala kandungan makna di dalamnya. Ia juga bisa mengotimalkan insting dalam mengenal dirinya serta meneguhkan hati untuk mengenal Tuhan dengan kecerdasan spiritualnya.
Mengenal diri dengan kecerdasan
Dalam pendekatannya, dengan berbekal naluri beserta kecerdasan, manusia akan mencari jati diri dengan cara mengenal dirinya. Diri yang melekat pada tubuh manusia terbagi menjadi dua. Ada yang bisa diindera dan berbentuk fisik. Ada pula yang tidak bisa diindera, dan berbentuk ruh.
Cara mengenal diri berbentuk fisik, manusia bisa mengoptimalkan berbagai kecerdasan. Dengan kecerdasan fisik (physical intelligence) dan kecerdasan emosi (emotional inttilegence) yang dimiliki, manusia berusaha mencukupi dirinya untuk mendapatkan energi (makanan, minuman, dll), kebebasan, rasa memiliki dan efektifitas. Dengan mengatur dan mengelola emosi yang dimiliki diri, seseorang akan memiliki keselarasan untuk kehidupan dan bisa mengembangkan kesadaran terdalam dari sebuah nilai akan adanya ada atas dirinya. Sehingga mereka akan mampu menumbuhkan kepercayaan untuk mencapai tujuan hidup dari yang dituju, yaitu kemulyaan.
Pun dengan kecerdasan intelektual (inttelectual intelligence). Dengan ketercukupan intelektualisas yang dimiliki, manusia akan mengenal alam semesta beserta isinya. Menggali manfaat di dalamnya dengan keilmuan, dan bisa menjadikan kemanfaatan atas apa yang dipelajarinya demi dan untuk kemanfaatan makhluk-makhluk yang ada di atas muka bumi dengan penuh pertimbangan dan keseimbangan.
Dengan kecerdasan intelektual, keilmuan menuntun dirinya untuk beradaptasi, menciptakan lingkungan positif, menjadikan diri lebih bermafaat, memiliki akses terhadap ide pengembangan diri maupun lingkungan serta memiliki sikap kreatif (creative leadership). Dengan kecakapan intelektualitas itulah, adanya alam semesta beserta isinya akan semakin mendekatkan keilmuannya untuk mengetahuai siapa dirinya sesungguhnya.
Pada puncaknya, kecerdasan fisik, emosi dan kecerdasan intelektual akan memudahkan dirinya mengelola kesadaran diri dan sosialnya. Orang yang bisa mengoptimalkan kecerdasan fisik, emosional dan kecerdasan intelektual dengan baik akan membantu mengembangkan kesadaran diri untuk mencapai kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Kecerdasan spiritual merupakan pondasi untuk mengenal diri dalam bentuk ruhnya. Dengan kecerdasan spiritual, manusia akan memiliki kesadaran me-manage dirinya sebagai hablum minannas, maupun kesadaran mengenal tuhannya, hablum minallah.
Bekal kecerdasan fisik, emosional dan intelektual yang sempurna akan menjadikan kepribadian seseorang mencapai kecerdasan spiritual paripurna. Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual paripurna akan memiliki kepekaan atas kesadaran yang terdalam atas pribadinya yang bernilai. Ujungnya, akan menjadikan diri lebih optimis, ber-positive thinking, mampu menyelesaikan masalah dengan bijak, memberikan manfaat kepada orang lain, dan cepat beradaptasi dengan segala perubahan, serta tidak larut pada pengaruh negatif.
Hal ini terjadi karena kecerdasan spiritual mereka berada di puncak piramida. Kecerdasan spiritual itu menjadi pengontrol dari kecerdasan fisik, emosional dan intelektual agar tidak keluar dari jalur kemanfaatannya. Implikasinya, berbagai kecerdasan yang dimiliki setidaknya akan menghasilkan tindakan yang bisa menciptakan spiritual-ritual di mana ritualitas yang mereka bangun berdasar spiritual yang terstruktur, berpola positif, berirama, serta bisa mengintegrasikan antara afeksi (sikap), kognisi (pengetahuan) dan psikomotor (gerak)-nya.
Dengan begitu, fungsi berbagai kecerdasan akan memenuhi kebutuhan seseorang untuk mencapai puncak dari kebutuhan yaitu mengenal diri secara fisik maupun secara ruh. Ciri orang yang berada pada puncak masing-masing kecerdasan adalah mengedapankan etika universal dengan menjunjung prinsip reciprosity yaitu berbuat baik agar orang lain dan atau alam semesta juga balik berbuat baik kepadanya. Orang berbuat baik kepada orang lain dan alam semesta karena mau berbuat baik, dan hal itu baik untuk dijalankan.
Wallahu a’alam bishawab.


