Uji Coba Lahan Marginal Madura untuk Bawang Merah

mepnews.id – Fakultas Pertanian, Universitas Jember, mengembangkan sektor holtikultura tanaman bawang merah jenis Rubaru di Madura. Bawang ini tanaman lokal masyarakat utara Kabupaten Sumenep, namun dikembangkan di Desa Pakandangan Sangra Kecamatan Bluto, sisi selatan Kabupaten Sumenep.

Prof Soetriono, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember, Desa Pakandangan Sangra merupakan daerah lahan marginal karena unsur tanahnya banyak bebatuan yang tidak layak untuk ditanami bawang.

“Rubaru ini varietas lokal yang biasa ditanam di wilayah utara dengan kesuburan yang cocok untuk bawang. Wilayah Pakandangan di selatan Sumenep ini unsur tanahnya banyak bebatuan,” ungkapnya, di situs resmi unej.ac.id.

Ia pun melakukan analisa tanah meliputi C-Organik, PH, NPK Tanah dan kadar air tanah. Data ini dibagi menjadi tujuh perlakuan, antara lain; unsur organik dalam tanah, komposisi pupuk, tata cara budidaya, analisa usaha tani dan strategi pengembangan.

“Butuh keseriusan para petani dan dukungan semua pihak agar pengembangan di sektor ini berlanjut dan petani dapat menerima manfaat secara langsung,” ulasnya.

Dalam penelitian ini, Universitas Jember bekerjasama dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur yang sama-sama mempunyai tujuan mensejahterakan taraf hidup petani lewat sektor holtikultura.

“Saya berharap pemerintah dan perguruan tinggi khususnya Universitas Jember dapat terus bekerja sama dalam upaya mensejahterakan petani,” imbuhnya.

M. Yusqi Elfahmi ST, Sub Koordinator Bidang Tani dan Kelautan, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur, mengatakan pada dasarnya sektor pertanian di Jawa Timur bervariasi dan ada regionalisasi. Oleh karena itu, Bappeda Jawa Timur tidak dapat melakukan penelitian sendiri. Perlu tenaga ahli untuk penelitian.

“Potensi agro kita sangat besar. Tentu kami tidak bisa melakukan sendiri untuk rekomendasi optimalisasi. Kami bermitra dengan Universitas Jember . Alhamdulillah, kami sudah lihat apa yang telah dilakukan para peneliti dan dapat menjadi rekomendasi pada para petani,” katanya.

Lalu ia menjelaskan, secara makro 30 persen lebih masyarakat Jawa Timur masih tergolong agro. “Jadi yang harus kita unggulkan adalah sektor agro, termasuk di Madura. Semoga apa yang dikerjakan para peneliti bermanfaat bagi petani,” imbuhnya.

Basuki Rahmat, salah satu Anggota Kelompok Tani (Poktan) Nurul Jannah, mengatakan uji coba dan penelitian ini sangat penting karena kondisi tanah di wilayahnya tandus. Perlu ada pembinaan dan tata kelola yang baik untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

“Sebetulnya potensi utama di sini adalah cabe jamu, jagung, kacang ijo. Mulai 2014, kami kembangkan budi daya tanaman kelor. Ada 100 hektare lahan kami siapkan untuk mendukung penelitian ini. Yang digunakan masih sekitar 1 hektare,” ungkapnya.

Ia berharap, penelitian pengembangan bawang merah yang dilakukan Universitas Jember dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. (is)

Facebook Comments

Comments are closed.