Sekoper Hikmah

Oleh: Budi Winarto

mepnews.id – “SEKOPER Proudly Presents Outbound Fun Parenting (Special for students & parents of 10th grade.” Begitulah kira-kira isi notifikasi yang muncul di handphone saya dari group walimurid tempat anak saya mengenyam pendidikan.

Kegiatan parenting kali ini dipandu motivator handal kaliber nasional, konsultan pendidikan, Ustadz Suhadi Fadjaray. Beliau menyampaikan bagaimana anak dan orang tua bisa meruntuhkan benteng ego masing-masing dan bagaimana peran agama bisa menyelesaikannya dengan sempurna. Anak-anak membutuhkan ridho orang tua, sebaliknya orang tua juga membutuhkan doa dari anak-anak.

Diakui atau tidak, di dalam diri kita sebagai orang tua kadang ada ego yang terasa lebih dibanding ego anak-anak kita. Kadang orang tua ingin menang sendiri, tidak mau salah, tidak mau mengalah. Bahkan terkadang apa yang diperintahkan orang tua akan menjadi sabda yang harus dilakukan anak-anak tanpa melihat urgensi bagi mereka. Di sisi lain, sebagian anak jaman sekarang memang punya karakteristik tinggi ego. Bila dinasihati orang tua, ia malah ‘banggel,’ tidak mau terganggu, bersikap cuek, tidak bisa menerima keadaan orang tuanya, sak karepe dewe, mengecewakan, dan lain-lain.

Begitulah sifat sebagian generasi muda sekarang. Penyebab utamanya bisa saja karena jaman yang telah merubahnya, sehingga ego mereka semakin menebal.

Lantas pertanyaannya apakah selama ini anak-anak merasa nyaman dengan ego kita sebagai orang tua? Atau sebaliknya, apakah kita sebagai orang tua tidak sakit hati dengan dengan ego anak-anak yang juga tinggi?

Di jaman serba canggih dan modern ini memang semua berubah. Perilaku kita saat kecil dengan perilaku anak-anak kita jaman sekarang memang ada perubahan. Tetapi apakah perubahan ego anak-anak jaman sekarang itu tidak terjadi di masa kita dulu? Kalau sekarang ada anak terkena narkoba, apakah di zaman kita tidak ada? Kalau sekarang anak-anak bandel, apakah anak-anak jaman dulu patuh semua?

Tentu kondisinya tidak jauh beda. Lantas, apanya yang berubah? Yang berubah tentu polanya. Kalau dulu, kenakalan anak dengan cara jadul. Di jaman sekarang, kenakalannya sudah modern. Oleh karenanya, kita selaku orang tua harus bisa membangun mindset diri agar bisa beradaptasi dengan segala perubahan.

Penyebab terjadinya perubahan

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentu membawa dampak positif sekaligus negatif. Kemajuan yang semakin tinggi memacu perubahan signifikan bagi kepribadian. Apabila tidak diimbangi dengan filter yang baik, maka ego kita akan sulit terkendalikan.

Aspek positif dari setiap perubahan akan membawa kebaharuan. Sebaliknya, aspek negatif atas perubahan akan membawa kehancuran. Semua itu akan berdampak bagi diri maupun keluarga.

Dampak perubahan negatif, dalam diksi yang dipakai Ustadz Suhadi, adalah toxic family. Racun dalam keluarga itu beliau gambarkan terwujud dalam berbagai hal. Contohnya, sifat kasar secara verbal maupun non-verbal, sikap permisif alias serba boleh dan tidak ada larangan, sikap cuek, perilaku kurang adab, biasa memfasilitasi syahwat tanpa kendali, dan lain-lain. Ketika ada salah satu pribadi di dalam keluarga kita terkena racun semacam itu, segera sembuhkan. Ketika tidak, masalah bisa timbul sehingga semakin sulit bagi keluarga itu mencapai ketenangan.

Bagaimana cara meruntuhkan ego diri?

Sebelum kembali ke materi Ustadz Suhadi, saya teringat peristiwa saat Rasulullah Muhammad Saw berumur 4 tahun atau lebih. Beliau dihampiri malaikat Jibril untuk dibelah dadanya. Setelah terbelah, dikeluarkanlah segumpal daging dan kemudian dicucilah daging itu di dalam bejana emas. Tujuan dari peristiwa ini adalah menyucikan hati Beliau. Dampaknya, hati Beliau menjadi bersih, tidak ada kotoran dan penyakit hati sekecilpun, sehingga akhlaq mulia tersemat dalam diri Beliau.

Hal ini sesuai hadist riwayat Anas bin Malik Ra, “Suatu hari ketika Rasulullah Saw bermain-main bersama beberapa anak lain, Beliau didatangi oleh malaikat jibril. Tiba-tiba malaikat Jibril merengkuh Rasulullah Saw dan mengeluarkan hatinya. Kemudian, malaikat Jibril mengeluarkan segumpal darah dari dalam diri Rasulullah dengan berkata, ‘Ini adalah tempat syetan pada dirimu’.”

Pembelahan ini disebut irhas. Dalam buku, ‘Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya,’ dijelaskan, irhas adalah kejadian istimewa dan luar biasa kepada calon nabi atau rasul Allah Swt sewaktu mereka kecil atau sebelum diangkat menjadi nabi dan rosul.

Peristiwa irhas pada Nabi Muhammad Saw bukan hanya sekali. Setelah pribadi Beliau sudah berbekal akhlaq, malaikat Jibril datang untuk kedua kalinya saat itu Beliau berumur 10 tahunan. Tujuan pembelahan dada yang kedua ini adalah menjadikan Beliau manusia sempurna yang bisa menjadi tauladan seluruh umat manusia di dunia.

Ada makna yang bisa dipetik dari peristiwa irhas ini. Untuk bisa meruntuhkan ego toxic family sehingga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah, kuncinya ada dua. Kita bersihkan hati dari segala penyakitnya, dan bagaimana menjadikan setiap diri bisa memberikan manfaat kepada sesama.

Navigasi terbaik untuk membimbing keluarga adalah agama beserta ajaranya. Peran agama sangat menentukan tujuan akhir dari hidup kita bersama keluarga. Dengan berpegang teguh pada ajaran agama (Alquran dan Hadist) maka purnalah masing-masing pribadi kita untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Hal ini dikarenakan masing-masing pribadi kita akan memiliki rasa syukur sebagai bahan baku untuk menggapai bahagia bersama keluarga. Pun, rasa syukur yang ada pada diri akan menjadi pembatas dari rasa marah, kasar, permisif, cuek dan sifat negatif lain akibat dampak ego terhadap orang di sekitar kita.

Dengan menjadikan hati bersih dan menjadikan diri bermanfaat maka kita akan lebih mudah untuk selalu berbuat baik dan memaafkan. Masing-masing pribadi kita akan sama-sama memiliki kesadaran untuk saling membahagiakan dan menyelamatkan antara satu dengan lainnya. Bukan hanya di dunia namun juga di akhirat.

Hal ini sesuai dengan sabda nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa untuknya.”

Wallahu’alam bishawabi.

 

 

Facebook Comments

Comments are closed.