Rindu Takjilan saat Kuliah di Hungaria

mepnews.id – Hesti Miranda, alumnus Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjalani bulan Ramadan tahun ini di Hungaria. Mahasiswa doktoral ini sedang di tingkat akhir di University of Debrecen, mengambil jurusan Educational Science.

Hesti menyampaikan, perbedaan yang sangat kentara saat Ramadhan ini adalah musim, waktu, makanan, dan ibadah. “Kebetulan sedang musim semi, jadi puasanya lebih nyaman dan tidak terlalu panas. Berkat musim ini, durasi puasanya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, faktor yang paling mendukung dalam menjalani ibadah puasa adalah cuaca. Di Hungaria, yang paling cocok adalah musim dingin dan musim semi. Pada saat itu suhu masih terbilang dingin, panas matahari tidak terlalu terik, dan aktivitas lebih fleksibel.

Sayangnya, di Hungaria tidak ada tradisi takjil sebagaimana di Indonesia. Tidak ada penjual di pinggir jalan yang menjajakan makanan atau cemilan. Maka, kalau ingin makan gorengan, harus bikin sendiri.

Untuk tempat ibadah, Hungaria memiliki masjid namun tidak menyelenggarakan tarawih. Kalau mau tarawih, Hesti ikut Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) atau sholat di rumah salah satu teman Indonesia.

Walau suhu udara di Hungaria kurang lebih 5 derajat Celcius, Hesti merasakan kehangatan dari teman sekelasnya. Teman yang kebanyakan non-muslim terkadang memberinya makanan asli Hungaria untuk berbuka.

Bukti lain tingginya toleransi, teman-temannya berusaha tidak makan di depan Hesti atau tidak lagi mengajaknya makan di siang hari karena tahu ia sedang berpuasa. (tri/wil)

Facebook Comments

POST A COMMENT.