Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Ya, saya sering lontarkan kata-kata itu ke teman, saudara atau rekan kerja yang sering ngga teliti membaca dan memahami suatu informasi tertulis.
Iqra itu bahasa Arab yang artinya ‘bacalah’. Kata ini istimewa karena menjadi wahyu pertama yang diturunkan Tuhan pada Nabi Muhammad. Saya, sebagai umatnya, tentu sangat memaknai kata ini.
Tapi, jangan salah. Iqra di sini bukan sekadar membaca ya… tetapi juga memahami. Nah, ini menjadi skill literasi paling dasar.
Pembaca yang budiman, tahukah Anda bahwa Indonesia menempati peringkat ke-70 (peringkat 11 dari bawah) untuk tingkat kecakapan literasi? Tentu ini menyedihkan.
Literasi membaca ngga harus dilihat dari banyaknya buku yang dibaca dalam sebulan atau setahun. Tapi, bisa dilihat dari bagaimana seseorang memahami suatu teks, informasi atau pemberitahuan. Lebih bagus jika bisa menerapkannya.
Masalahnya, dalam beberapa kondisi, seringkali orang tidak cukup teliti, telaten dan tuntas dalam membaca dan memahami informasi, berita atau pemberitahuan, baik melalui surat yang tercetak, maupun melalui media sosial di gadget.
Baca chat panjang di WA saja males, apalagi baca di media cetak. Iya, apa iya? LoL π π
Kegagalan membaca tuntas, dan memahami secara menyeluruh, akhirnya mengakibatkan salah persepsi dan mis-informasi. Kalau dilanjutkan dengan psikomotor, maka tindakannya pasti keliru.
Selain membaca, literasi menulis pun begitu. Untuk kondisi sekarang, bisa dilihat bagaimana seseorang berkomunikasi secara tertulis via gadget atau media sosial (chatting). Banyak tulisan aneh-aneh yang tidak semua orang bisa membacanya.
Ambil contoh, pembuatan ‘singkatan’ dalam konteks chat di ponsel atas nama penghematan karakter tulisan. Kata ‘gue’ kerapkali ditulis ‘gw’ atau ‘w’. Kata ‘aku’ disingkat jadi ‘aq’ lalu disingkat lagi jadi ‘q’ saja.
Okelah kalau contoh di atas masih bisa ditolerir. Coba simak kasus lain saat kata ‘nya’ bertransformasi jadi ‘X’. Entah kenapa begitu. Entah apa dasarnya. Jujur, saya gemes banget sama mereka yang nulis model begini. Tulisan ‘katanya’ diketik ‘katax’, kata ‘sebaiknya’ jadi ‘sebaikx’. Jangan jangan nanti kata ‘hanya’ jadi ‘hax’ atau bahkan jadi ‘hx’. Lalu, ada tulisan ‘xnyi’.
Apa sih?! Dari mana singkatan-singkatan itu. OMG, saya sampai gemes. Pengen ngunyah cireng! ππ
Saya setuju bahwa masih banyak yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi orang Indonesia, dan itu membutuhkan kerjasama banyak pihak. Tetapi, kenapa nggak mulai dari diri sendiri?
Jadi, mulailah untuk iqra‘ –lebih sabar dan telaten dalam membaca dan memahami suatu informasi. Mulai aja dari diri sendiri!


