Amit-amit, Jangan Sampai Berurusan dengan Orang Bermental Entitlement

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Amit-amit deh, Sis. Kalau bisa, jangan sampai kau berurusan dengan klien yang bermental entitlement. Duit, nggak juga keluar. Eh, tuntutan melulu yang dia keluarkan,” begitu curhat teman saya, psikolog yang mengelola sebuah klub kebugaran di pegunungan.

“Lho, memang ada apa?” tanya saya.

“Kemarin, di klub, ada tamu. Wanita usia paro baya, berseragam resmi lengkap dengan atributnya. Awalnya, ia bilang mau daftar jadi member. Lalu, melihat-lihat fasilitas klub. Eh, belum juga ngeluarin uang pembayaran, ia sudah mengomentari ini dan itu. Dia bilang, treadmill-nya kurang kenceng lah, view terhalang genting lah, menunya nggak cocok lah. Yang bikin aku sebel, ia selalu bilang ‘Saya ini orang level tinggi lho ya’ atau ‘Saya ini pegang orang-orang pusat lho ya’ atau ‘Kau harus paham cara melayani orang seperti saya’. Entah berapa kali ia mengulang-ulang kalimat itu. Mungkin 20 kali dalam dua jam ngomong. Narsis banget…!”

…………

Pembaca yang budiman, obrolan kami terlalu panjang untuk dituliskan di sini. Saya juga tidak memberi nasihat khusus pada teman saya, karena dia juga tahu secara teoritis bagaimana cara menangani orang yang berperilaku entitlement. Nah, saya hanya ingin sedikit berbagi pada Anda tentang entitlement.

Mentalitas entitlement itu pola pikir bahwa seseorang merasa berhak mendapatkan keistimewaan atau pengakuan tertentu dari pihak lain meski realitanya tidak seperti itu. Orang yang punya mentalitas ini cenderung merasa dunia seolah-olah berhutang padanya tanpa ia merasa perlu memberi imbalan apa pun. Maka ia memperlakukan orang lain semau dia sendiri.

Contoh perilaku yang mencerminkan mentalitas entitlement dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

  • Menuntut perhatian terus-menerus. Selalu ingin jadi pusat perhatian dalam situasi sosial tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
  • Menganggap diri lebih penting. Mengutamakan kebutuhan dan keinginan diri sendiri di atas orang lain tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain.
  • Mengeluhkan tentang apa saja, tentang banyak hal, tanpa ambil tindakan memperbaikinya. Ia merasa orang lain harus bertanggung jawab atas apa yang ia keluhkan.
  • Menuntut pelayanan istimewa. Di restoran, di rumah sakit, di toko, bahkan di rumah tetangga, ia menuntut pelayanan istimewa atau perhatian khusus tanpa alasan jelas. Misalnya, berbicara keras pada pelayan restoran jika tidak sesuai dengan harapannya.
  • Mengkritik tapi tidak konstruktif. Sering mencela orang lain tanpa memberi umpan balik konstruktif atau tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Dalam hubungan sosial, dalam tata-krama kemasyarakatan, bahkan dalam interaksi interpersonal, mentalitas entitlement ini dapat memberi energi negatif. Bikin muak. Bahkan, orang lain bisa menanggap orang dengan mentalitas entitlement ini punya gangguan kepribadian.

Ada beberapa hal yang mungkin membentuk mentalitas entitlement.

Bisa jadi, ia benar-benar mengalami gangguan kepribadian. Mungkin gangguan kepribadian narsistik (NPD) atau gangguan kepribadian antisosial (ASPD). Gangguan kepribadian ini biasanya ditandai dengan perubahan pandangan terhadap diri sendiri dan orang lain. Ia menganggap diri lebih unggul daripada orang lain, menunjukkan rasa harga diri yang tinggi atau berlebihan.

Bisa jadi, ia dulunya anak manja. Mungkin orang tuanya bermaksud baik untuk membuat ia jadi anak yang percaya diri dan bahagia. Namun, mungkin orang tuanya selalu mengatakan “ya” atas apa yang dia maui. Lambat laun, di benaknya tertanam rasa berhak atas apa pun. Anak yang selalu diberikan apa yang mereka inginkan dan tidak diharuskan berupaya dulu maka saat menjadi orang dewasa bakal mengharapkan atau bahkan menuntut orang lain untuk menuruti kemauannya.

Bisa jadi juga, ini upaya untuk kompensasi berlebihan atas kesalahan masa lalu. Orang yang pernah mengalami penganiayaan, ketidakadilan, pengabaian, atau tindakan sejenis, kadang mengembangkan sikap entitlement untuk ‘balas dendam’. Jika ini yang terjadi, bakal ada gangguan besar dalam hubungan pribadi, profesional, hingga sosial.

Jadi, kalau bisa, janganlah berurusan dengan orang-orang yang punya mentalitas entitlement. Yang tak kalah penting, jangan sampai kita sendiri tenggelam dalam mentalitas entitlement. Sungguh, tidak nyaman saat kita nanti berurusan dengan malaikat. Kalau sudah ada bibit-bibit entitlement, tolong segera benahi diri sendiri atau minta bantuan ahli.

 

Facebook Comments

Comments are closed.