mepnews.id – Sebanyak 48 pengurus OSIS SMA Negeri 1 Kalitidu, Bojonegoro, menjalani Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di DeDurian Park, Wonosalam, Jombang, 23-24 September 2023. Oleh para trainer, peserta langsung dihadapkan pada kasus-kasus umum keorganisasian dan diminta memecahkannya.
Dalam LDKS ini, pengurus OSIS periode 2023/2024 disertai lima pengurus lama, serta sejumlah guru dan Kepala SMAN 1 Kalitidu. Mereka mendapat pelatihan secara intelektual, mental, dan fisik dari tim trainer DeDurian Park. Selain materi indoor, para peserta juga mendapat pelatihan outdoor.
Muhammad Ma’ruf SPd MPd, Kepala SMA 1 Kalitidu, mengungkapkan, tujuan pelatihan bagi pengurus OSIS ini khususnya untuk mengenal bagaimana organisasi yang baik, menambah ilmu dan wawasan kepemimpinan, serta melatih ketrampilan keorganisasian.
“Sekolah selalu dihadapkan hal yang sama setiap tahun, yakni singkatnya masa bakti pengurus OSIS. Waktu yang cuma setahun itu membuat reorganisasi jadi konstan. Maka, lewat LDKS ini, saya meminta peserta memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu lalu menerapkannya di sekolah. Jadilah motivator, jadilah penggerak, yang mempengaruhi teman agar jadi lebih baik,” kata ia.
Maka, tim trainer DeDurian Park segera menerapkan nilai-nilai dasar kepemimpinan dalam berorganisasi. Nilai dasar kepemimpinan itu dimulai dari memimpin diri sendiri lewat kedisiplinan dan sikap bertanggung jawab. Trainer menetapkan aturan main yang dipatuhi semua peserta. Antara lain tertib menata sepatu, menjaga membuang sampah, cara makan, cara tidur, cara sholat jamaah, cara bertanya pada pemateri, dan lain-lain.
Dalam sesi pertama tentang kewargaan dan keorganisasian, peserta diajak berdiskusi membahas materi video The Cart. Setiap pembahas diberi kesempatan untuk maju menyuarakan pendapat, sekaligus untuk praktik public speaking.
Materi kedua, tentang teamwork era digital, peserta diajak membahas kasus-kasus yang biasa dihadapi OSIS. Materi diberikan mahasiswa Prodi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, yang sedang magang di DeDurian Park.

Materi tentang teamwork oleh Mahasiswa Unair.
Pemateri membagi peserta ke dalam enam kelompok. Masing-masing kelompok memilih satu di antara enam kasus; Pertama, rapat offline tapi tidak semua anggota bisa datang. Kedua, rapat online tapi ada beberapa kendala teknologis. Ketiga, ada event dan bagaimana cara mendapatkan dana usaha secara offline. Keempat, ada event dan bagaimana cara mendapatkan dana secara online. Kelima, online branding; bagaimana cara menyebarkan informasi event lewat jagad maya. Keenam, offline branding; bagaimana cara menyebarkan info event secara konvensional.
Setelah brainstorming memecahkan masalah secara internal, masing-masing kelompok diminta mempresentasikan solusinya. Solusi yang diajukan ditanggapi oleh peserta dari kelompok lain. Dari sini muncul ide-ide kritis dan kadang lucu.
Misalnya, kelompok 6 langsung unjuk diri untuk maju dan mendapat kesempatan pertama presentasi. Setelah yel-yel, juru bicara kelompok 6 memaparkan solusi jika rapat offline tidak dihadiri peserta. “Pertama, rapat diundur sampai istirahat ke depan. Jika ini masih gagal, bisa rapat lewat online.” Solusi ini ditanggapi kelompok 1, “Bagaimana jika cara online pun gagal?”
Dijawab, “Ya kembali ke komitmen awal.”

Berangkat jelajah alam menyusuri punggung Gunung Anjasmoro.
Hari berikutnya, pelatihan lebih banyak outdoor. Peserta dipandu trekking menjelajahi kawasan punggung Gunung Anjasmoro tak jauh dari lahan DeDurian Park. Sambil jalan kaki lewat medan naik-turun-naik, trainer menjelaskan komoditas durian, kopi, cengkih, dan lain-lain yang banyak ditanam di Wonosalam.
Usai trekking, latihan kepemimpinan dilanjutkan lewat berbagai games untuk teambuilding. Untuk uji nyali, peserta juga ditantang ‘terbang’ dengan kabel dalam permainan flying fox.
Erlangga Charisma Putra, pengurus lama OSIS, berkomentar. “Menarik. Tempatnya sangat cocok dipakai untuk LDKS. Para pemateri juga menyampaikan dengan bagus sehingga siswa mudah mengerti. Tapi kami tidak mendapatkan jadwal tertulis tentang materinya.”
Saiba Ilma Faidah, dari kelas 10 yang bertanggung jawab atas budi pekerti luhur dalam kepengurusan OSIS, mengaku mendapatkan banyak hal dalam LKDS ini. “Pertama, tentang pembelajaran. Kami mendapatkan materi-materi yang sebelumnya kami belum tahu. Kedua, nilai-nilai bertanggung jawab atas yang apa kita lakukan atau perbuat. Tim trainer bukan hanya mengajarkan tapi juga mencontohkan.”


