Apia, Anak Petani yang Dapat Beasiswa sampai S3

mepnews.id – Apia Dewi Agustin hanyalah anak petani di pedesaan Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur. Namun, ia berhasil mendapat banyak keistimewaan saat kuliah di Universitas Gadjah Mada. Ia mematahkan stigma anak kampung ekonomi lemah bakal sulit kuliah.

Situs resmi ugm.ac.id mengabarkan, Apia pada 2022 lulus prodi S1 akuntansi FEB UGM dengan cumlaude. Ia menyelesaikan studi S1 dengan beasiswa Bidikmisi dan KAFEGAMA (Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM). Kini, ia berkesempatan melanjutkan studi pascasarjana di UGM gratis. Tidak hanya di jenjang S2, tapi juga S3.

“Alhamdullilah saya bisa meneruskan pendidikan master lanjut doktor melalui beasiswa PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemendikbudristek,” ungkap wanita yang pernah jadi Project Management Analyst di salah satu Multi National Company di Indonesia ini.

Apia menjelaskan jalan mendapatkan beasiswa sangat ketat. Beasiswa ini dibuka dua tahun sekali, dengan syarat pendaftar lulus maksimal satu tahun terakhir untuk program sarjana, dan usia tidak lebih 24 tahun. Tidak semua universitas di Indonesia dapat menjadi mitra program ini.

Melalui beasiswa ini, Apia menjadi salah satu dari 300 sarjana unggul untuk didik menjadi doktor muda dengan menempuh pendidikan pascasarjana akselerasi di jenjang S2 dan S3 maksimal 4 tahun mulai tahun 2023. Saat ini Apia terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana di Magister Sains dan Doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM di program studi Akuntansi, di bawah bimbingan promotor Prof Mahfud Sholihin PhD.

Apia lahir dari keluarga sederhana di pelosok desa jauh dari pusat kota Magetan. Ayahnya petani yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Perekonomian keluarga sempat goyah ketika ayahnya meninggal saat Apia di semester 5 S1. Untuk hidup sehari-hari, mereka mengandalkan toko kelontong kecil yang dikelola ibunya yang hanya lulusan SD. “Dari jualan ibu itu hasilnya pas-pasan untuk hidup sehari-hari,” tutur Apia.

Kondisi itu justru menjadi pelecut semangat Aipa tekun belajar dan berprestasi. Sejak SD hingga SMA, ia bintang kelas. Ketika SMA, Apia sering mengikuti lomba dan jadi juara. Ia menjadi lulusan terbaik di salah satu SMA terbaik di daerahnya. Karena prestasi, ia mendapatkan beasiswa penuh untuk pembayaran SPP saat SMA.

Sadar dengan kondisi keluarga yang serba terbatas, Apia tidak berdiam diri saat kuliah. Ia aktif kerja paruh waktu dengan menjadi asisten dosen, kelas, penelitian, hingga laboratorium. Selain untuk menambah ilmu, tentunya itu juga menambah uang saku.

Apia tidak berkecil hati dengan kondisi ekonomi keluarganya. Ia bersyukur, kedua orang tuanya mendukung untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Itu menjadi semangat Apia terus belajar hingga bisa menyelesaikan studi S1 dan melanjutkan studi pascasarjana di Akuntansi UGM dengan beasiswa penuh.

“Saya selalu ingat pesan Bapak dan Ibu. Meski orang tua tidak sekolah, anak-anak harus bisa sekolah. Dibekali harta, bisa habis. Dibekali ilmu, akan abadi,” jelasnya.

Apia memiliki minat penelitian di bidang Akuntansi Keuangan, Sistem Informasi Akuntansi, dan Akuntansi Syariah. Penelitiannya tentang Sistem Informasi Akuntansi Wakaf yang ia kerjakan bersamaan dengan proyek dosen FEB yang dibiayai LPDP juga mendapatkan hak kekayaan intelektual dari Kemenkumham. Selain fokus pada akademik, Apia juga aktif di berbagai kegiatan sosial pendidikan dan organisasi kemasyarakatan.(Ika)

 

Facebook Comments

Comments are closed.