mepnews.id – Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta merancang sistem pemantauan keramba jaring apung berbasis Long Range (LoRa) dengan fitur pendeteksi pencurian guna mencegah kerugian pada budi daya ikan kerapu. Mereka adalah Fitriana Dyah Ayu Rahmadhani, Naufal Faiq Azhar dan Rifky Andigta Al Fathir prodi Pendidikan Teknik Elektro serta Shaiful Abas dan Nauval Hibrizi prodi Pendidikan Teknik Mekatronika.
Dikabarkan situs resmi uny.ac.id, Fitriana Dyah Ayu Rahmadhani selaku ketua tim menggambarkan bisnis ikan kerapu sangat menjanjikan karena tingginya permintaan konsumen. “Namun, budi daya ikan kerapu memiliki risiko kerugian cukup tinggi. Antara lain jika terjadi pencurian atau kematian massal akibat kondisi perairan tidak sesuai.”
Saat ini kebanyakan pengusaha budi daya kerapu masih menggunakan metode pemantauan konvensional. Mereka membayar orang untuk memeriksa kondisi keramba secara berkala malam hari menjelang panen. Cara ini cukup menguras waktu, tenaga dan biaya, sehingga kurang efektif dalam mengatasi permasalahan.
Untuk mengatasi permasalahan, diperlukan sebuah teknologi sistem pemantauan keramba jaring apung. Maka, Dyah dan kawan-kawan merancang sistem pemantauan keramba jaring apung berbasis LoRa yang dinamai NetFarms.
Naufal Faiq Azhar menjelaskan, NetFarms dilengkapi fitur pendeteksi pencurian dengan menggunakan sensor laser dan Light Dependent Resistor (LDR) dikombinasikan sensor PIR (Passive Infra Red). “LoRa adalah teknologi wireless yang memungkinkan pengiriman data dalam jarak jauh dengan konsumsi daya yang rendah.”
Penggunaan NetFarms dapat membantu pengusaha kerapu memantau kondisi keramba secara real-time melalui aplikasi di smartphone atau komputer tanpa perlu membayar orang untuk memeriksa kondisi keramba. Fitur pendeteksi pencurian juga dapat memberikan notifikasi langsung jika terdeteksi ada aktivitas mencurigakan di sekitar keramba, sehingga dapat segera diambil tindakan untuk mencegah pencurian.
NetFarms dilengkapi sistem pemantauan kecocokan perairan terhadap pertumbuhan ikan kerapu supaya menunjang proses pertumbuhan. Diharapkan, pengusaha ikan kerapu terbantu untuk meningkatkan efektivitas pemantauan keramba jaring apung dan mencegah kerugian yang disebabkan pencurian ikan atau faktor lainnya.
Rifky Andigta Al Fathir menjelaskan, sistem keamanan NetFarms bekerja dengan cara mendeteksi gerakan mencurigakan menggunakan sensor laser sebagai pemancar cahaya yang diterima LDR sebagai receiver. Jika laser dipotong atau ditabrak oleh seseorang maka sensor mengirim data biner ke mikrokontroler. Kemudian, ada sensor PIR yang dapat membedakan suhu tubuh manusia dengan hewan lainnya. Penggunaan dua sensor ini dapat meningkatkan keamanan sistem. Hasil pemantauan dikirim dengan teknologi LoRa ke smartphone pembudidaya ikan kerapu dalam bentuk notifikasi dan bunyi sirine.
Shaiful Abbas menambahkan, NetFarms dilengkapi sistem keamanan, sistem pemantauan kecocokan perairan, dan sistem kelistrikan. Ketiga sistem terintegrasi melalui mikrokontroler ESP 32. Listrik pada NetFarms disuplai melalui PLTS off grid dan turbin angin vertikal yang disimpan pada akumulator.
Karya ini berhasil meraih dana dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang PKM-KC tahun 2023. (Dedy)


