Boleh Saja Frugal Living Asal Tak berlebihan

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Belakangan ini, di media sosial bermunculan istilah frugal living. Itu lantaran sejumlah selebriti mengaku hidup secara frugal. Antara lain, Cinta Laura, Reza Rahadian, Raditya Dika, Zaskia Adya Mecca, dan lain-lain. Kalau di luar sana, ada aktor Keanu Reeves, investor Warren Buffett, pebisnis teknologi Mark Zuckerberg, aktris Sarah Jessica Parker, dan lain-lain.

Frugal living diserukan sejumlah influencer. Antara lain Mr Money Mustache (Pete Adeney) yang menulis blog gaya hidup frugal dengan tujuan pensiun dini. Dia menjadi inspirasi banyak orang dalam manajemen keuangan bijaksana, investasi, dan hidup sederhana. Juga ada Vicki Robin penulis buku ‘Your Money or Your Life‘. Lalu ada Elizabeth Willard Thames yang menulis blog ‘Frugalwoods‘ mengisahkan perjalanannya menuju kebebasan finansial dengan cara hidup sederhana bersama keluarga.

Tapi, apa sih yang dimaksud dengan frugal dan frugal living itu?

Menurut kamus, frugal itu berarti hemat atau ekonomis berkaitan dengan uang atau makanan. Bisa juga berarti sederhana dan polos sehingga berbiaya sedikit. Bisa juga berarti mengeluarkan uang atau makan hanya berdasarkan kebutuhan sehingga tidak berlebihan. Lawan kata dari frugal antara lain; extravagant, squandering, excessive, lavish, luxurious hingga generous.

Frugalism atau frugal living adalah konsep atau gaya hidup yang mengedepankan hemat dan efisiensi dalam pengeluaran serta konsumsi. Ini mengarah pada pengurangan pengeluaran yang tidak perlu, terus menabung, menghindari hutang, dan fokus pada investasi untuk tujuan finansial jangka panjang. Beda dengan pelit atau kikir, tujuan frugal living adalah kebebasan finansial dan mengalokasikan sumber daya dengan bijak. Bukan sekadar menahan diri dari pengeluaran.

Tidak hanya soal keuangan, frugalism kemudian juga dapat mengarah pada hal-hal lain seperti kelestarian lingkungan, kesederhanaan, dan penggunaan waktu yang berkualitas. Kalau makan sampai habis, maka tidak akan ada limbah. Kalau bikin baju dan dipakai sampai koyak, maka limbah kain makin sedikit. Ini berarti menambah kesehatan diri dan lingkungan.

Prinsip yang sering dikaitkan dengan frugalisme antara lain; penghematan yakni meminimalkan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, investasi alias mengalokasikan uang untuk keuntungan jangka panjang, kesadaran finansial yakni memahami aliran keuangan pribadi dan membuat rencana keuangan yang bijaksana, kemandirian yakni mengurangi ketergantungan pada konsumsi materi, kesederhanaan gaya hidup dengan cara mengurangi konsumsi berlebihan, dan memiliki visi finansial jangka panjang antara lain pensiun dini atau kebebasan finansial.

Masalahnya, sejumlah orang melakukan frugalism secara ekstrim hingga terkesan menyiksa diri. Gaya hidup irit dan efisiensi pengeluaran ini dilakukan sampai-sampai melewati batas keseimbangan dan kenyamanan. Frugalism ekstrim ini bisa berdampak negatif pada kualitas hidup dan kesejahteraan seseorang.

Ada frugalis yang mengurangi konsumsi hingga menghindari pengeluaran untuk kebutuhan yang seharusnya penting, seperti cukup makanan, perawatan kesehatan, dan peralatan dasar. Ada juga frugalis dengan kondisi hidup terlalu murah, dengan tinggal di tempat dengan standar sangat minim atau kurang nyaman.

Ada juga frugalis pelit yang menghindari pengeluaran sosial. Ia tidak ikut kegiatan sosial berbiaya, antara lain menghadiri pernikahan, ulang tahun, atau acara lainnya. Sampai-sampai, ada yang berhemat hingga membahayakan kesehatan. Ia menghindari pemeriksaan medis, atau mengabaikan pola makan sehat, demi menghemat uang.

Frugalisme ekstrim ini tidak selalu sehat dan bahkan dapat menyebabkan dampak negatif pada kualitas hidup dan kesejahteraan. Mengadopsi prinsip-prinsip penghematan yang bijaksana dan seimbang adalah pendekatan yang lebih baik untuk mencapai tujuan finansial sambil tetap menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan emosional.

Mengapa?

Karena frugalism mendidik pemahaman yang lebih baik tentang keuangan. Ini mendorong kita untuk memantau pengeluaran, mengetahui prioritas keuangan, dan membuat rencana finansial. Ini bisa membantu mengurangi stres terkait keuangan dan memberikan perasaan kendali yang lebih baik atas kehidupan finansial. Ketika tahu ke mana uang mengalir dan memiliki dana darurat, kita merasa lebih tenang dalam menghadapi situasi tak terduga.

Frugalism juga mendorong kemandirian finansial. Kita dapat mengandalkan diri sendiri dalam mengelola keuangan dan tidak terjebak dalam siklus utang atau bergantung pada pendapatan yang tidak konsisten. Dari sini, kita bisa mencapai kebebasan finansial, yakni tidak perlu bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kebebasan finansial ini dapat memberikan perasaan lega dan memungkinkan kita lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup.

Dalam skala lebih besar, frugalism seringkali berdampingan dengan kesadaran lingkungan. Hidup sederhana dan menghindari konsumsi berlebihan dapat membantu mengurangi jejak karbon bagi lingkungan. Ini bisa memberikan kepuasan karena kita merasa turut berkontribusi dalam menjaga planet ini.

Jadi, boleh saja menjalani hidup secara frugal tapi sewajarnya saja. Hemat itu harus, tapi tetap keluarkan uang demi kebutuhan dasar hidup, tetap keluarkan uang untuk investasi sosial (derma, sedekah, zakat, pajak, dan sejenisnya). Jangan sampai frugal esktrem yang mengarah pada pelit, kikir, atau bakhil.

Facebook Comments

Comments are closed.