Status Pendidikan Ibu Makin Penting dalam Menentukan Status Pendidikan Anak

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Dalam sesi obrolan dengan emak-emak gaul, terjadi perdebatan seru tentang pendidikan wanita.

Ada yang berpendapat, “Jadi wanita itu tak perlu berpendidikan terlalu tinggi. Asal tidak ketinggalan zaman saja, pendidikan biasa sudah cukup. Toh nanti ke mana-mana ikut suami.”

Yang lain mendebat, “Ya harus berpendidikan setinggi mungkin. Wanita zaman sekarang dituntut untuk turut menghidupi keluarga. Kalau ada apa-apa dengan suami, kita harus siap.”

Yang berikutnya berpendapat beda lagi.

………..

Pembaca yang budiman, debat semacam ini sudah ada sejak lama dan argumennya berputar-putar di isu yang itu-itu juga. Kalau dituruti, perdebatan nggak akan pernah habis. Apa yang terbaik tentu sifatnya sangat individual dan bergantung kondisi masing-masing orang atau keluarga.

Tapi, dalam tulisan ini, saya ingin sampaikan sudut pandang yang agak beda. Tentu saja, sudut pandang ini didasarkan pada studi ilmiah. Sudut pandang yang saya maksudkan adalah masa depan peningkatan pendidikan anak.

Studi global oleh para pakar dari Lancaster University di Inggris dan University of British Columbia di Kanada mengambil pendekatan peka soal gender. Mereka menemukan, status pendidikan ibu saat ini memainkan peran semakin penting dalam membentuk status pendidikan anak di masa depan. Pentingnya status pendidikan ayah ternyata lebih menurun.

Untuk studi ini, para peneliti mengumpulkan data global skala besar terhadap 1,79 juta orang yang lahir antara 1956 hingga 1990 dari 106 kelompok masyarakat di seluruh dunia. Bisa dikata, masyarakat yang diteliti mewakili hampir 90% populasi dunia.

Perluasan pendidikan memang diharapkan dapat menciptakan mobilitas sosial yang lebih besar di seluruh dunia. Tapi, laporan hasil penelitian mengungkapkan bukti-bukti yang menantang asumsi di atas dan justru menunjukkan betapa pentingnya gender. Berlawanan dengan ekspektasi, perluasan pendidikan tidak serta merta membuat peluang pendidikan menjadi lebih setara bagi anak dengan latar belakang pendidikan orang tua yang berbeda di banyak wilayah di dunia.

Sebelumnya, kebanyakan penelitian tentang mobilitas sosial –yakni, sejauh mana anak dapat mencapai keberhasilan pendidikan terlepas dari latar belakang pendidikan keluarga– lebih berfokus pada peran pendidikan ayah dan bukan peran ibu. Tetapi, penelitian mutakhir itu menunjukkan, pentingnya status pendidikan ibu untuk mobilitas pendidikan anak (khususnya anak perempuan) melampaui status pendidikan ayah. Ini terutama terjadi di Afrika, Asia, Pasifik dan Eropa termasuk Inggris.

Dengan meningkatnya kesetaraan gender dan peningkatan proporsi ibu yang berpasangan dengan ayah yang berpendidikan lebih rendah, asosiasi ibu-anak dalam status pendidikan menjadi lebih kuat tetapi asosiasi ayah-anak menjadi lebih lemah. “Mengingat peningkatan perempuan dalam pendidikan, pengukuran patriarki atas mobilitas pendidikan antargenerasi semakin tidak dapat dipertahankan,” kata Profesor Yang Hu dari Departemen Sosiologi di Lancaster University, yang menjadi penulis penelitian ini.

Dengan perluasan pendidikan global, meningkatnya pendidikan ibu secara efektif bisa mempertahankan, dan bahkan meningkatkan, pengaruh pendidikan orang tua terhadap mobilitas sosial anak di banyak bidang di masa datang.

Jadi, para wanita, tetaplah mengejar pendidikan setinggi mungkin jika mengejar masa depan mobilitas anak. Andai berperan hanya di rumah karena suami, ilmu dari pendidikan tinggi sang ibu sangat berpengaruh pada cara anak belajar untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi di masa datang.

Facebook Comments

Comments are closed.