RSTKA Bantu Ratusan Pasien di Lembata dan Malaka

mepnews.id – Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) melanjutkan Bakti Indonesia Timur periode 2. Misi pelayanan tetap seperti periode 1, yaitu, skrining penyakit jantung bawaan, skrining stunting, dan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Bakti kali ini diikuti 18 relawan dokter-dokter spesialis anestesi, PPDS THT-KL, obsgyn, bedah, anak, kardiologi, dokter umum, perawat bedah, apoteker, dan dokumentator

Bakti ini dilakukan di Nusa Tenggara Timur. Untuk periode 2, sasarannya di Pulau Lembata 12-16 Juni 2023 dan Kabupaten Malaka 19-23 Juni 2023. Malaka daerah otonom baru hasil pemekaran Kabupaten Belu dengan pusat pemerintahan di Betun dan berbatasan langsung dengan Timor Leste.

RSTKA berlabuh di dekat Pelabuhan Lewoleba di Pulau Lembata.

Para relawan mendarat di Bandara El Tari Kupang pada 11 Juni 2023, kemudian lewat darat menuju kapal RSTKA di Pelabuhan Wini, lalu melaut ke Lembata. Setelah Kapal RSTKA berlabuh di Pelabuhan Lewoleba, relawan memberikan pelayanan kesehatan di RSUD Lewoleba, Puskesmas Lewoleba, Kelurahan Kolipadan, Kelurahan Selandoro, Kelurahan Lewoleba Barat, dan Kelurahan Lewoleba Timur.

RSTKA membuka poli dan melayani 80 pasien THT, 89 pasien poli bedah, dan 53 pasien poli kardiologi. Di puskesmas dan posyandu, dilakukan pelayanan ANC dan USG terhadap 38 ibu hamil dan skrining stunting pada 172 anak. Relawan juga memberi penyuluhan stunting, pelatihan USG untuk dokter umum puskesmas se-kabupaten Lembata dan pelatihan PPGDON yang diikuti bidan dan dokter.

Di poli mata, dr Yanuar Zulfikli SpM selaku operator melakukan 31 operasi katarak, 12 operasi pterygium, dari 142 pasien poli. Antusiasme masyarakat begitu tinggi.

“Setiap baksos operasi mata khususnya katarak, minat masyarakat melampaui batas. Para relawan harus bongkar pasang alat operasi yang sangat banyak. Namun, rasa lelah seakan sirna setelah melihat tawa haru mereka ketika kasa dilepas. Penglihatan mereka lebih terang dan jelas,” kata dr Alvin Saputra, PIC Bakti Indonesia Timur, terhadap operasi mata di Lembata.

Usai bakti di Lembata, kapal RSTKA bersama relawan kembali Wini. Relawan melanjutkan perjalanan darat menuju penginapan di Kota Batun.

Di Malaka, relawan RSTKA memberikan pelayanan kesehatan di RSUPP Betun, Puskesmas Weoe, Puskesmas Namfalus, Puskesmas Betun, Desa Weoe, Desa Litamali, Desa Rainawe.

RSTKA membuka poli di RSUPP Betun dan melayani 124 pasien THT dan 24 pasien poli kardiologi. Di puskesmas dan posyandu, dilakukan pelayanan ANC dan USG 138 ibu hamil dan skrining stunting kepada 116 anak. Juga ada penyuluhan stunting, pelatihan USG untuk dokter umum puskesmas se-kabupaten Malaka dan pelatihan PPGDON yang diikuti bidan dan dokter.

Yudhi Cholikul Ihsan, relawan dokumentasi RSTKA, berkomentar, “Menjadi relawan RASTKA membuat saya bersyukur, banyak tempat-tempat yang layak dan bisa saya kunjungi. Perjalanan, tidur dan sebagian aktivitas di kapal menjadi pengalaman baru bagi saya.”

Yudhi juga merasa dikelilingi lingkungan yang nyaman, teman-teman yang menyenangkan dan tidak membedakan latar belakang. Ia seperti berada di antara keluarga, di antara orang-orang yang sudah lama kenal. Padahal, baru pertama kali bertemu.

“Hal ini menjadikan saya bisa bekerja dan mendokumentasikan kegiatan dengan maksimal. Saya mendapatkan kebebasan mendokumentasi. Pada dasarnya kebebasan adalah bentuk berekspresi dan berekspresi adalah hal yang menyenangkan. Tidak semua orang bisa mendapatkan itu,” tambahnya.

Relawan lain juga mengaku mendapat ilmu baru sebagai bekal melanjutkan pendidikan spesialis. Ada yang berkesempatan membagikan ilmu pendidikan kedokteran spesialis kepada sejawat nakes di daerah kepulauan.

Bakti ini didukung sponsor utama Protelindo, Amman Mineral Northstar Foundation, Frans Seda Foundation, Investree dan ASKI (Astra Komponen Industri), dan didukung RSUD Dr Soetomo, Universitas Airlangga, Fakultas Kedokteran Unair, dan IDI Surabaya, serta Pelindo, Pelindo Marine Service, dan Aperindo. (*)

Facebook Comments

Comments are closed.