Daging Buatan Dilegalkan di Amerika; Bagaimana di Indonesia?

mepnews.id – Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 21 Juni 2023 menyetujui penjualan daging hasil rekayasa genetika yang dikembangkan di laboratorium. Dua perusahaan yakni Upside Foods dan Good Meat sudah menuntaskan proses persetujuan. Perizinan ini diprediksi bakal menandai era baru di meja makan.

Konsep daging buatan dimulai 1998 saat Jon Vein mempatenkan daging yang dikembangkan di laboratorium dengan teknik kultur sel dan jaringan. Daging ini membutuhkan sel dari hewan hidup untuk diekstraksi dan ditanam di lingkungan laboratorium. Sejak itu, teknologi produksi daging buatan berkembang pesat.

Yang mendorongnya adalah manusia terus makan daging dan sektor ternak berkontribusi 25% dari keseluruhan protein makanan. Masalahnya, peternakan menimbulkan permasalahan global antara lain banyaknya kebutuhan air tawar, bahan bakar fosil, dan tanah. Selain itu, ternak menimbulkan emisi gas rumah kaca 18% dan menghasilkan metana 37% di atmosfer secara global.

Prof Ronny R. Noor

Prof Ronny Rachman Noor, pakar genetik dari IPB University, lewat situs resmi ipb.ac.id, menilai pemikiran dan konsep yang mendasari daging buatan ini cukup logis. “Berbagai teknologi peternakan modern berhasil mengurangi laju deforestasi dan emisi gas rumah kaca. Namun, upaya ini perlu dikombinasikan dengan teknologi lainnya, misalnya teknologi daging buatan.”

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) telah mengeluarkan pernyataan bahwa daging buatan ini aman untuk dikonsumsi. Berbagai produk yang dihasilkan dari teknologi daging buatan ini secara bentuk fisik, aroma, estetika dan rasanya hampir sama dengan daging alami yang diproduksi dari ternak.

Ujar Prof Ronny, “Teknologi daging buatan memberikan alternatif untuk menghasilkan daging yang lebih ramah lingkungan dan lebih manusiawi. Ini juga menjadi alternatif bagi kelompok vegetarian yang tidak puas dengan produk vegetarian yang sudah ada di pasaran.”

Walau produk daging buatan ini sangat mirip dengan daging hasil ternak, keberhasilan pemasarannya sangat tergantung pada selera dan persepsi konsumen. Di Amerika Serikat, jajak pendapat menunjukkan 50 persen penduduk menyatakan tidak akan pernah mencoba daging buatan ini.

“Di Indonesia, yang mulai mengalami keterbatasan lahan untuk peternakan komersial, teknologi daging buatan akan berkembang juga ke depan. Diperkirakan, ini akan mengambil sebagian dari pangsa pasar daging alami, meski tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya,” ujar Prof Ronny.

“Persepsi, penerimaan konsumen dan harga yang lebih mahal diperkirakan akan menjadi kendala utama pemasaran daging buatan di Indonesia. Masalah yang paling krusial adalah kepastian kehalalan semua proses pembuatan daging buatan,” imbuh dia.

Prof Ronny menilai, daging buatan ini bermanfaat sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah peternakan terutama yang terkait pencemaran lingkungan. Hanya saja, ia memastikan daging buatan tidak akan dapat menggantikan sepenuhnya daging alami. (*/Rz)

Facebook Comments

Comments are closed.