Workshop Wakaf Produktif agar Tidak Hanya untuk 3M

mepnews.id – Selama dua hari, 25-26 Juni 2023, digelar Workshop Wakaf Produktif di DeDurian Park dan Wonosalam City Park di Jombang. Workshop ini untuk sosialisasi wakaf yang pelaksanannya belum optimal.

Yusron Aminulloh, CEO DeDurian Park Group yang jadi tuan rumah workshop, memaparkan tujuan kegiatan ini untuk merumuskan solusi-solusi agar wakaf bisa dilaksanakan secara produktif dan bisa bermanfaat bagi banyak orang.

“Wakaf itu bukan hanya untuk 3M (masjid, madrasah, makam). Begitu banyak hal yang bisa digerakkan lewat wakaf produktif. Sementara, ada begitu banyak tanah wakaf yang ternyata tidak produktif,” kata Yusron.

Workshop ini diformat mengalir. Tidak seperti seminar, siapa saja boleh jadi panelis bertukar pandangan. Tidak hanya hanya pembicara di depan mimbar.

Selain Yusron, yang jadi pembicara dalam workshop ini antara lain Dr Fahmi motivator bisnis bersertifikat dari LMI – J. Meyer, Rahmat dari Bank Jatim Syariah Sidoarjo, Prof Raditya Sukmana guru besar ekonomi syariah Unair, Susi Susianti SE MM ketua Yayasan Gerakan Wakaf Indonesia, KH Abdul Halim Mahfudz pendiri Badan Wakaf Ponpres Tebu Ireng, dan lain-lain.

Dipandu Isa Anshori, workshop ini dihadiri 50 peserta. Hadirin antara lain Didin Ahmad dari Yayasan Roushon Fikr, Dr Dian Berkah SHI MHI dari LazisMu Jatim, Riyanto Witjaksono dan Yayat Suratmo dari Forum Jurnalis Wakaf Indonesia, dan lain-lain.

Gus Didin Ahmad mengungkapkan, potensi wakaf mencapai 180 triliun rupiah. Namun, wakaf belum terkelola optimal karena masyarakat belum tersosialisasi. “Ibaratnya, zakat itu sholat wajib tapi wakaf seperti sholat sunnah. Jadi, masyarakat belum mengutamakan wakaf.”

Penyebab lainnya, belum ada lembaga yang betul-betul serius menangani wakaf. Bahkan, Badan Wakaf Indonesia juga belum optimal bekerja karena dananya minim. Perlu ada contoh lembaga yang sudah bisa mengoptimalkan wakaf.

Dian Berkah memberi beberapa contoh lembaga yang bisa dijadikan model. Misalnya, unit-unit usaha Muhammadiyah yang bisa mengoptimalkan tanah wakaf untuk perguruan tinggi, rumah sakit, bisnis dan lain-lain. Begitu juga dengan model Pondok Gontor, beberapa lembaga milik NU, dan lain-lain.

Yayat Suratmo mengungkapkan dari sisi jurnalistik. Menurutnya, sosialisasi wakaf di masyarakat masih belum masif. Berita-berita tentang wakaf belum cukup memikat di masyarakat.

Imam Hambali, ketua LazisMu Jatim yang juga ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jatim, mengungkapkan pihak penerima wakaf justru kewalahan. Ia mencontohkan tanah wakaf yang ongkos pengelolaannya lebih mahal daripada produksinya. Maka, ia menekankan wakaf itu sesuatu yang produktif.

Facebook Comments

Comments are closed.