Dosen UM Rekonstruksi Tari Jaranan Tumpang

mepnews.id – Untuk menarik minat wisatawan, tari Jaranan Tumpang direkonstruksi dengan waktu lebih pendek dan pakaian lebih tertata. Launching atas rekonstruksi tari ini dilaksanakan di depan Gedung PRIMKOPTI ‘Bangkit Usaha’ di Jl. Sanan No. 49/51 Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, Minggu 11 Juni 2023 pukul 09.00, disaksikan masyarakat umum.

Di Kabupaten Malang, kelompok Jaranan Bromo Tengger Semeru (BTS) dari Kelompok Jaranan Tugu Sari Panggung Rejo Tumpang merupakan salah satu yang favorit. Sekali pentas, kelompok ini menyajikan pertunjukkan dalam durasi panjang. Biasanya dimulai 15.00, istirahat 18.00 menjelang magrib, kemudian mulai lagi 19.00 sampai pukul 02.00 dini hari.

Pertunjukkan terbagi menjadi dua sesi. Pertama, kembangan tari estetika yang tujuanya menarik perhatian penonton. Sesi ini durasi penyajiannya sekitar satu hingga satu setengah jam. Kedua, kembangan menuju kalapan yang biasanya berisi pertunjukan magis.

Tim dosen gabungan, dalam penelitian desentralisasi Fakultas Sastra berjudul ‘Rekonstruksi Kerangka Estetika Performance Jaranan Kreasi BTS Tumpang untuk Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Malang’, melakukan rekonstruksi waktu dan seragam.

Penelitian diketuai Dra E. W. Suprihatin Dyah Pratamawati MPd dari UM, dengan anggota Dr Robby Hidajat MSn (FS UM), Dra Yuliati MHum (FIS UM), dan Drs Sumarwahyudi MSn (FS UM), serta Dr Heriyati Yatim MPd dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Dua mahasiswa yang terlibat dalam proyek penelitian ini; Rosaria Putri Anggraeni serta Muhammad Ridho Ramadhan.

“Tujuan utama rekonstruksi adalah pengembangan pariwisata. Kami melihat potensi menarik dari jaranan BTS ini. Masalahnya, wisatawan umumnya datang ke suatu tempat tidak punya waktu lama untuk menonton pertunjukan panjang,” jelas kata Suprihatin menjelaskan lewat situs resmi um.ac.id.

Rekonstruksi dilakukan pada tari estetika atau kembangan pertama, penggunaan seragam dan durasi penyajian jadi sekitar sepuluh menit. Untuk kembangan kalapan, tidak dilakukan rekonstruksi.

“Awalnya tidak menggunakan kostum, tapi hanya menggunakan kaos seragam kelompok, kini direkonstruksi dengan mengenakan kostum lengkap serta tata rias lengkap. Musiknya juga hasil rekonstruksi,” lanjutnya.

Launching rekonstruksi dilaksanakan di depan Gedung PRIMKOPTI. “Ini hanya awal dari sosialisasi. Kebetulan tempat yang bisa digunakan untuk penampilan perdana ya di sini. Ke depan, jika di Tumpang ada event, kita bisa ikut tampil. Atau, mungkin juga tampil di tempat lain,” ujarnya.

Penari dalam jaranan Tumpang hasil rekonstruksi adalah mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik UM. Pemusiknya, yang berjumlah 6 orang, dari seniman Jaranan Tumpang.

Penelitian ini lanjutan dari penelitian tahun 2021 yang membuahkan buku berjudul ‘Jaranan BTS (Bromo-Tengger-Semeru) Tumpang Kabupaten Malang Jawa Timur’ yang diterbitkan Singgasana Budaya Nusantara.

Selain dihadirkan agar bisa dinikmati wisatawan, rekonstruksi tari ini juga untuk bahan ajar dalam mata kuliah seni pertunjukan dan pariwisata budaya pada semester 1 perkuliahan program studi pendidikan seni tari dan musik FS UM. (Zanadia Manik Fatimah)

Facebook Comments

Comments are closed.