Anggukan Kepala Bisa Memberi Seribu Arti

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Apalah arti sekadar anggukan kepala? Bagi orang yang peka komunikasi, itu sangat berarti. Anggukan bisa memengaruhi orang lain, diri sendiri, atau bahkan sebaliknya.

Saat Anda menganggukkan kepala untuk memberi tanda persetujuan atau menggelengkan kepala untuk menunjukkan ketidaksetujuan, gerakan sederhana itu tidak hanya mengirim pesan ke orang lain; Anda sejatinya juga sedang memengaruhi diri sendiri.

Pembaca yang budiman, isyarat dengan kepala ini sudah seperti refleks saja kita melakukannya. Anggukan atau gelengan kepala sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang kita sampai nyaris tidak menyadari. Saat ada stimulus berupa ucapan, tulisan, atau pesan lain lewat berbagai media, kita bisa tanpa sadar mengangguk atau menggeleng.

Yang menarik, ada penelitian oleh Richard Petty profesor psikologi dari Ohio State University (Amerika Serikat) dan Pablo Brinol doktor di Universidad Autonoma de Madrid (Spanyol) tentang isyarat kepala dan isyarat tubuh lainnya. Mereka menemukan, gerakan sederhana ini memengaruhi persetujuan dengan editorial yang mereka dengar sekaligus dapat memengaruhi sikap diri sendiri.

Mengangguk atau menggelengkan kepala bukan hanya urusan berkomunikasi dengan orang lain, tetapi juga berkomunikasi dengan diri sendiri. Mengangguk atau menggeleng, serta gerakan tubuh lainnya, berfungsi sebagai ‘validasi diri’ yang menegaskan kepada kita bagaimana perasaan kita tentang pikiran kita sendiri.

Saat mengangguk, kita mendapatkan kepercayaan pada apa yang kita pikirkan. Ketika menggelengkan, kita kehilangan kepercayaan pada pikiran kita sendiri. Menganggukkan kepala pada dasarnya memberi tahu pada diri sendiri bahwa kita memiliki kepercayaan pada pikiran kita sendiri –apakah pikiran itu positif atau negatif. Menggelengkan kepala berarti sebaliknya: membuat kita kurang percaya dengan pikiran sendiri.

Namun, menganggukkan kepala bukan berarti kita setuju dengan apa pun yang kita dengar. Jika kita memikirkan pikiran negatif saat mengangguk, ini justru memperkuat ketidaksetujuan kita. Anggukan kepala membuat kita lebih percaya dengan pikiran negatif kita. Sebaliknya, ketika sebagian besar pikiran positif, anggukan meningkatkan kepercayaan pada pikiran ini dan dengan demikian bisa meningkatkan persuasi.

Meski banyak yang sependapat, tentu saja hasil penelitian ini bisa diperdebatkan atau bahkan dikembangkan. Misalnya, bagaimana dengan orang India yang kepalanya selalu bergoyang saat bicara. Geleng kepala bisa saja melambangkan ‘iya’ dan mengangguk kadang menyatakan ‘tidak.’

Begitu juga dengan pengaruh anggukan atau gelengan orang yang berbicara pada orang yang mendengar. Orang lain cenderung setuju saat kita mengungkapkan gagasan sambil mengangguk-anggukkan kepala kita, atau orang lain cenderung turut tidak setuju saat kita mengungkapkan gagasan sambil mengangguk-anggukkan kepala kita. Ini juga karena gestur memiliki beberapa efek psikologis yang mempengaruhi persepsi dan interaksi sosial.

Ketika kita menganggukkan kepala, itu dapat dianggap sebagai tanda persetujuan atau penerimaan. Orang lain cenderung terpengaruh oleh tindakan sosial kita dan cenderung meresponsnya dengan cara yang serupa. Kita mengangguk-anggukkan kepala dapat mempengaruhi persepsi orang lain bahwa gagasan yang kita ungkapkan memiliki nilai atau kebenaran.

Meski demikian, setiap orang memiliki preferensi dan kebiasaan komunikasi yang berbeda. Beberapa orang mungkin tidak merespons positif terhadap gestur mengangguk-anggukkan kepala atau sebaliknya. Karena itu, kita tetap perlu memperhatikan, memahami dan menghormati preferensi individu saat berinteraksi dengan orang lain.

Facebook Comments

Comments are closed.