Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pembaca yang budiman, persaingan itu perlu dikenalkan dan dilatihkan pada anak sejak dini. Di masa depan, hidup di dunia ini penuh persaingan. Jika anak sudah terbiasa bersaing, maka ia akan bisa menjalani kehidupan dewasa yang kompetitif. Karena paham kompetisi yang sehat, ia bakal juga bisa berbagi dan bekerjasama.
Pengenalan dan pelatihan persaingan sebenarnya sudah umum dialami anak-anak. Ketika anak bermain dengan teman, ada banyak sekali unsur kompetisi. Misalnya, saat maber game tertentu. Saat main balap karung. Saat bagus-bagusan baju. Saat adu okol. Di kelas pun jiwa kompetitif dilatih lewat ranking.
Persaingan sehat dapat memberikan manfaat positif bagi perkembangan anak-anak. Bisa meningkatkan keterampilan sosial, berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun hubungan interpersonal positif. Bisa juga meningkatkan rasa percaya diri saat anak belajar mengambil risiko dan menghadapi tantangan dengan sikap positif dan produktif.
Persaingan sehat bisa meningkatkan kemampuan anak mengelola emosi dan konflik. Saat itu, anak belajar menghadapi perasaan cemburu, frustrasi, atau kekecewaan dengan cara yang sehat dan konstruktif. Ini juga membantu anak mengembangkan keterampilan kritis dan analitis karena anak bisa membandingkan dan menilai kinerja diri sendiri dengan kinerja teman lalu bisa memperbaiki kekurangannya. Anak bisa belajar mengembangkan rasa hormat terhadap perbedaan. Ia belajar menghargai kemampuan dan bakat teman-temannya, dan menyadari bahwa persaingan sehat membutuhkan kerja sama dan dukungan dari orang lain.
Secara keseluruhan, persaingan sehat membantu anak mempersiapkan diri untuk masa depan.
Masalahnya, kadang ada anak yang tidak siap untuk persaingan yang sehat. Ada anak yang cenderung bersaing secara tidak sehat antar teman seusia.
Contohnya, ia biasa mengejek atau mengolok teman yang tidak pandai dalam satu bidang tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan rasa superioritas ia sendiri. Ia menjatuhkan citra teman-teman lain dengan membuat rumor atau ngrasani hal buruk tentang mereka agar ia terlihat lebih baik atau lebih populer di mata orang lain. Anak ini sombong atau menghina teman-teman yang gagal dalam lomba atau kegiatan tertentu. Ia tega memanipulasi situasi agar terlihat lebih superior atau menang dalam persaingan, bahkan dengan cara curang.
Dalam persaingan tidak sehat, tentu ada pihak yang merasa tertekan. Persaingan seperti ini dapat memicu rasa cemburu dan membuat hubungan persahabatan jadi rusak. Di masa depan, persaingan tidak sehat mendorong anak jadi manusia korup, jahat, egois, kejam, dan sejenisnya.
Maka, penting untuk mengajarkan pada anak tentang nilai-nilai positif dari persaingan. Antara lain tentang rasa persaudaraan, kerja sama, dan rasa empati. Orang tua, guru, atau pengasuh, perlu membimbing anak untuk memahami bahwa persaingan sehat tidak harus berarti menang atau kalah. Yang lebih penting adalah tentang memperbaiki diri sendiri dan memotivasi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.
Saat bersaing, anak juga perlu dilatih memiliki keterampilan sosial dan emosional yang memadai. Bantu anak mengembangkan keterampilan tersebut dan beri dukungan anak dalam menjalin hubungan persahabatan yang sehat dan positif.


