mepnews.id – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan, mengungkapkan potensi terjadinya fenomena El Nino pada Agustus 2023. El Nino dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan cukup luas di beberapa daerah.
Organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) juga mengingatkan, El Nino dapat menyebabkan kekeringan ekstrim di Amerika Tengah, Afrika bagian selatan, hingga Asia Timur termasuk Indonesia. FAO meminta negara-negara mengantisipasi risiko.

Wahid Dianbudiyanto, dosen Unair.
Pengamat Lingkungan Universitas Airlangga, Wahid Dianbudiyanto ST MSc, menjelaskan El Nino merupakan fenomena saat air laut di Samudera Pasifik lebih panas daripada suhu biasanya. El Nino merupakan bagian dari fenomena lebih besar yaitu El-Nino-Southern Oscillation (ENSO). Bagian lainnya adalah La Nina.
“Jika El Nino peristiwa memanasnya suhu air di luar batas kewajaran di Samudera Pasifik, La Nina merupakan pendinginan air di luar batas kewajaran di area tersebut,” jelasnya.
Penyebab terjadinya El Nino dan La Nina (ENSO) adalah Southern Oscillation yaitu perubahan tekanan udara pada laut tropis Samudera Pasifik. Saat air laut di sisi tropis Samudera Pasifik memanas, maka atmosfer di atasnya menurun tekanannya.
“Terjadilah perubahan pola tiupan angin yang dapat menyebabkan perubahan pola iklim, yang cenderung menghasilkan iklim cukup ekstrim,” ujar Dosen Teknik Lingkungan tersebut.
Perubahan pola itu akhirnya meningkatkan potensi dampak El Nino dan La Nina di Indonesia. Permukaan air yang lebih hangat dapat meningkatkan kemungkinan hujan lebih tinggi. Hal itu dikarenakan perpindahan panas melalui media air dan udara meningkat sehingga peristiwa presipitasi atau turunnya air dari atmosfer ke bumi ikut meningkat.
“Hal ini berdampak pada meningkatnya intensitas hujan di Amerika Selatan seperti Peru dan Ekuador. Di lain sisi, Indonesia dan Australia mendapatkankan kekeringan,” tambahnya.
El Nino cukup sering terjadi. Peristiwa El Nino pada 1982-1983 dan 1997-1998 merupakan yang paling intens abad ke-20. Peristiwa tahun 1997-1998 menyebabkan ketidakstabilan kondisi dunia, termasuk kekeringan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Berkaca dari pengalaman, menurutnya, pemerintah harus belajar meminimalisir dampak yang akan timbul. Pemerintah dapat melaksanakan berkolaborasi dengan beragam pihak untuk melakukan edukasi dan kampanye. Teknologi modifikasi hujan dapat dilakukan sehingga membantu saat Indonesia dilanda kekeringan panjang.
“Misalkan, El Nino datang ke Indonesia pada Agustus. Maka pemerintah bisa mengkampanyekan penyimpanan sebanyak-banyaknya air di reservoir-reservoir. Delapan tahun lalu, Indonesia kurang siap sehingga dampaknya cukup berat,” tuturnya. (*)


