mepnews.id – Sabtu 22 April 2023 sore, beberapa orang meledakkan petasan di Benjeng, Gresik, seiring takbiran Lebaran. Saat suara keras terjadi, seorang bayi berusia 38 hari kaget. Mata dan lidah bayi perempuan itu dikabarkan jadi tidak normal. Bayi itu juga menangis, kesulitan bernafas, dan kejang-kejang. Setelah dibawa ke rumah sakit, kondisinya koma lalu meninggal 27 April.
Gina Noor Djalilah, dosen Spesialis Anak di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan suara ledakan petasan memiliki ambang batas sangat berbahaya pada organ pendengaran juga pada organ vital lain seperti otak, jantung, dan paru. “Suara petasan memiliki frekuensi 150-175 desibel, sedangkan ambang batas manusia 30-90 desibel,”ujar Gina pada situs resmi um-surabaya.ac.id.
Tekanan terlalu besar yang melampaui batas dapat merusak karena mensensitisasi batang otak yang memiliki banyak fungsi termasuk mengatur pusat pernapasan, pendengaran, dan pengaturan suhu. “Selain pendengaran terganggu, tekanan yang besar dari suara petasan dapat menjadi faktor pencetus masalah apabila si bayi memiliki kelainan sejak lahir. Misal, punya penyakit jantung bawaan, kejang saat bayi dan lainnya. Jadi, penyebab pecahnya pembuluh darah bukan menjadi faktor penyebab utama. Harus dilihat faktor-faktor pendukung lain dari bayi,” kata Gina lagi.
Ia menjelaskan, suara keras petasan belum tentu menjadi penyebabnya namun bisa menjadi pemicu awal terjadinya kondisi. Pada bayi masih terdapat reflek moro atau refleks kaget yang bisa muncul saat suara keras terjadi.


