Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Dulu, waktu masuk SD, anak saya itu termasuk berusia lebih tua di atas rata-rata. Saat kelas 3, badannya juga lebih besar daripada teman-teman lainnya. Lalu ia ditunjuk gurunya jadi ketua kelas hingga kelas 6,” begitu curhat teman.
“Terus, sekarang saat di SMP?” tanya saya menyelidik.
“Masih kelas 7, sih. Tapi, dia pernah bilang sangat ingin masuk OSIS.”
“Wah, bagus sekali. Bisa jadi, anakmu punya potensi softskill di bidang kepemimpinan. Coba gali dan kembangkan potensi dia, Bund. Yang penting, beri dia kesempatan dan dukungan untuk meraih yang terbaik.”
………….
Pembaca yang budiman, apakah anak-anak Anda juga punya potensi untuk menjadi pimpinan bagi anak-anak lain di sekitarnya? Semoga saja, ya. Kita butuh calon-calon pemimpin di bidang apa saja. Mereka lah nanti yang akan memegang kendali negara dan bangsa kita dalam beberapa puluh tahun ke depan.
Tapi, bagaimana mengenali anak yang punya bakat dalam kepemimpinan?
Biasanya, anak yang berbakat memimpin itu pemberani. Ia cenderung siap mengambil risiko dan berani mencoba hal-hal baru. Ia juga memiliki kemampuan memikirkan solusi kreatif dan inovatif terhadap masalah yang dihadapi bersama.
Anak yang potensial memimpin itu bisa berbicara dengan jelas dan efektif. Mereka mampu menyampaikan ide-ide secara tegas dan meyakinkan. Anak-anak lain yang mendengarnya bisa cepat menerima gagasannya. Bahkan, gaya bicaranya saja bisa membuat anak-anak lain mematuhinya. Di sisi lain, ia juga mampu mendengarkan dan memahami pendapat dan cara pandang anak-anak lain yang mungkin berbeda.
Yang tak kalah penting, calon pemimpin selalu mampu mengambil keputusan. Ia bisa membuat keputusan dengan cepat dan tepat, sambil mempertimbangkan berbagai faktor yang relevan. Saat teman lain masih omong doang, ia sudah bertindak.
Anak-anak yang berbakat kepemimpinan juga memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim. Ia memahami karakter teman-teman dalam kelompoknya, mampu bekerja sama dengan anggota tim yang sifatnya beraneka-ragam, bisa mengelola mereka sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan bisa membangun hubungan yang baik dengan mereka.
Mampu menyelesaikan masalah. Ia cepat memahami keadaan, membaca masalah yang dihadapi, lalu mencari solusi efektif. Jika solusinya tepat, ia bisa menyelesaikan masalah tim. Bahkan merayakannya. Jika solusinya tidak tepat, ia bisa segera belajar memahami kekeliruannya.
Ia bisa menginspirasi orang lain dengan cara yang positif. Punya kharisma dan wibawa di antara teman-teman. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dengan figur demikian, maka apa yang ia lakukan atau katakan biasanya jadi panutan anak-anak lain.
Pembaca yang budiman, jika Anda sudah menemukan sebagian besar ciri-ciri di atas, maka beri kesempatan pada si anak untuk mengembangkan potensi kepemimpinannya menjadi kepemimpinan aktual di lingkungannya.
Beri kesempatan ia untuk memimpin di kelas, di dalam kelompok, atau dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kalau misalnya tidak menjadi ketua kelas, beri kesempatan ia menjadi kepala regu Pramuka, ketua proyek penelitian ilmiah, tour leader saat karya wisata, dan sejenisnya.
Jika di lingkungan rumah, biarkan ia menjadi ‘pimpinan geng kampung’. Tentu bukan geng kriminal, ya. Tapi, geng untuk kerjabakti, geng karang taruna, geng penghijauan, dan sejenisnya. Dari situ, anak dapat belajar secara langsung bagaimana menjadi pemimpin yang efektif.
Beri dia pendidikan kepemimpinan. Ikutkan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) atau training sejenis. Bisa juga beri anak pelatihan lewat buku, video, atau kursus. Jika ia tahu dan memahami prinsip-prinsip dasar kepemimpinan, maka ia bisa mempraktikannya dalam kelompok.
Kemudian, beri tantangan sesuai kepasitas dan umurnya. Misalnya, buat acara lomba seni yang membutuhkan kerjasama banyak anak. Tunjuk si calon pemimpin itu untuk memimpin proyek.
Saat si anak sudah mempraktikkan kepemimpinan, jangan lupa selalu memberikan umpan balik yang positif dan konstruktif. Kalau keliru, tunjukkan kekeliruannya di mana lalu pancing ide untuk menemukan cara yang benar. Kalau benar, beri pujian sehingga ia terus termotivasi untuk meningkatkan kemampuan.
Jangan lupa, tetap ajarkan pentingnya etika dan nilai-nilai kepemimpinan. Antara lain tentang integritas, kerja sama, empati, caring, dan pengambilan keputusan yang bijaksana. Ini akan menjadi landasan moral yang kuat bagi anak kelak saat dia berkembang dewasa. Tekankan, tanggung jawab besar yang harus diemban pemimpin di hadapan Tuhan.


