mepnews.id – Batik menarik perhatian mahasiswa KKN Universitas Negeri Yogyakarta di Desa Gedong Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo. Salah satu aktivitas yang digerakkan dalam KKN adalah pelatihan membatik, utamanya motif khas Purworejo.
Diah Widiastutik menggagas pelatihan ini atas dasar minimnya kualitas sumber daya manusia di desa KKN, terutama para ibu. “Harapan ke depan, pelatihan ini dapat dikembangkan bahkan dapat menjadi sumber penghasilan bila dikelola dengan serius” kata Diah, dikutip situs resmi uny.ac.id 30 Maret 2023.
Mahasiswa prodi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya ini menggandeng PKK setempat untuk pelatihan dari proses merancang atau mendesain motif batik, mencanting batik tulis, kuas, dan ciprat, mewarnai batik hingga melorod (membersihkan) malam lilin. Tahapan-tahapan itu dilaksanakan berurutan sesuai proses produksi batik.
Pelatihan diawali dengan paparan tahapan yang harus dilakukan dalam kegiatan membatik. Langkah-langkah pembuatan batik dari pengenalan alat dan bahan sampai melorod.
Pada tahap desain motif, Diah memberi arahan tentang contoh-contoh batik khas Purworejo ke peserta agar bisa melihat dan menirunya, kemudian peserta diminta berkreasi sesuai keinginan masing-masing peserta.
Selanjutnya, peserta dilatih menggambar motif dalam kertas gambar. Tahap berikutnya memindah pola desain motif di kertas gambar ke permukaan kain (ngemal motif) dengan alat bantu pensil 2B.
Pada proses mencanting, peserta dikenalkan berbagai jenis canting dan kegunaannya. Saat menggunakan malam, peserta diajari bagaimana menggunakan canting yang benar agar nyaman digunakan dengan malam lilin.
Pada tahapan mewarnai, peserta diberi pengenalan bahan pewarna, formula pencampuran bahan, dan cara pencelupan kain dalam pewarna. Peserta dilatih memberi warna tunggal atau warna jamak serta pengenalan pewarnaan teknik colet.
Tahap melorod adalah proses menghilangkan lilin pada batikan yang sudah selesai diwarna. Caranya, batikan dimasukkan ke air panas (direbus), sambil diangkat kemudian dimasukan lagi, diulang-ulang, hingga lilinnya lepas. Kain kemudian dicuci dengan air sampai lilinnya hilang. Bila masih ada lilin menempel, kain direbus kembali dan dicuci, diulang-ulang sampai bersih. Untuk mempercepat terlepasnya lilin, air untuk merebus dapat ditambahkan tepung tapioka (kanji) atau soda abu.
Terakhir, yaitu penjemuran. Kain batik disarankan dijemur tanpa kena langsung sinar matahari. Maka, menjemurnya cukup di ruang teduh dan diangin-anginkan. Tujuannya guna warnanya bertahan awet.
Hasil pelatihan batik bersama ibu-ibu di Desa Gedong berupa kain batik bermotif khas Purworejo. Antara lain batik manggis, durian, kambing ettawa, kue clorot, lanting, dan penari dolalak. Ukurannya 150 x 75 cm. Kain ini bisa dimanfaatkan untuk produk taplak meja ataupun selendang.
Wakil Ketua KKN UNY Desa Gedong, Said Abdurrohman, menilai pelatihan ketrampilan membatik bermanfaat untuk menumbuhkan kepercayaan diri warga dalam mengembangkan wirausaha.
“Keterampilan ini sangat dibutuhkan untuk melatih ibu-ibu mampu bekerja mandiri di rumah. Kegiatan pelatihan membatik juga berfungsi mengenalkan ibu-ibu pada budayanya sendiri yaitu batik, sehingga pada gilirannya mampu menumbuhkan sikap cinta pada budayanya sendiri” tutup Said.
Batik merupakan warisan budaya yang telah diakui dunia. Ada pengakuan dari UNESCO bahwa batik warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi. Tekstil dengan ornamen dasar motif batik. (Dedy)


